widget

Minggu, 19 Oktober 2014

Kekecewaan di balik Hadiah Nobel Perdamaian 2014

Malala Yousafzai berpose dengan buket bunga usai berbicara dalam konferensi pers di Perpustakaan Birmingham, Inggris, Jumat 10 Oktober 2014 (foto: TEMPO.co)

Papua_http : Nobel Perdamaian tahun 2014 telah diberikan kepada dua pejuang untuk anak-anak, yakni Malala Yousafzai, gadis Pakistan berumur 17 tahun dan Kailash Satyarthi pria asal India berusia 60 tahun. Atas kerja nyata mereka membebaskan anak-anak yang menjadi korban perbudakan, Komite Nobel di Norwegia menganugerahkan uang 8 juta kronor atau sekitar US$ 1,11 juta.
Kailash Satyarthi berhasil membebaskan hampir 80 ribu anak yang menjadi budak di India. Ia dikenal sebagai pengikut nilai-nilai hidup Mahatma Gandhi untuk melakukan perlawanan secara damai. atas kerja mengagumkan mereka untuk kemanusiaan, atas upaya tak kenal lelah mereka demi hak-hak anak, dan karena telah membuat perjuangan yang mereka lakukan mendapatkan perhatian seluruh dunia. Sedangkan Malala adalah wanita muda yang dikenal berani mengkritik milisi Taliban di Pakistan yang melarang anak-anak perempuan bersekolah. Malala nyaris kehilangan nyawanya ketika ditembak dari jarak dekat oleh milisi Taliban saat pulang dari sekolah menuju rumahnya di kawasan lembah Swat dengan menggunakan bus sekolah. Malala yang sekarang tinggal di London, Inggris.
Nominator untuk peraih penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini ada 278 orang. Di antaranya yang cukup santer disebut adalah Benny Wenda, pemuda Papua yang sudah menjadi warga Inggris, setelah kabur dari penjara Abepura, Papua, tahun 2002. Benny saat itu sedang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Abepura atas tindak kriminalnya memimpin sebuah serangan berdarah tahun 2000 di Abepura yang menewaskan seorang Satpam dan seorang personel polisi.
Kegagalan Benny Wenda meraih Nobel Perdamaian 2014 menimbulkan kekecewaan mendalam di kalangan kelompok pejuang Papua merdeka yang sebulan sebelumnya gencar menggalang dukungan melalui sosial media untuk kemenangan Benny. Ekspresi kekecewaan itu antara lain ditunjukkan oleh mahasiswa muda Papua yang sedang menuntut di berbagai kota di Jawa, seperti di Yogyakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Selasa (14/10/2014), mereka menggelar aksi unjuk rasa secara bersamaan di kota-kota tersebut dengan tuntutan yang agak dibelokan, yakni terkait ditahannya dua jurnalis asing asal Perancis oleh Polda Papua. Tak lupa mereka selipkan sebuah tuntutan klasik (dan ini sebetulnya tuntutan utama mereka) yakni meminta Referendum di Tanah Papua untuk menentukan status politik wilayah Papua. Hal itu tampak dari pernyataan koordinator Aksi, Nikson Wenda bahwa “Hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat dijamin oleh hukum internasional, karena itu kami juga punya hak yang sama, Indonesia harus menjamin hak itu.” http://www.umaginews.com/2014/10/amp-bandung-gelar-aksi-minta-pemerintah.html

Sepak terjang Benny Wenda mencari Suaka Politik
Menyinggung soal penahanan dua jurnalis Perancis yang ditangkap di Wamena 7 Agustus lalu oleh jajaran Polda Papua, itu dilakukan sesuai pelanggaran hukum yang mereka lakukan, yaitu penyalahgunaan visa turis untuk kegiatan jurnalistik. Atas kesalahan itu, Pemerintah Perancis maupun kedua jurnalis itu sudah meminta maaf secara tertulis kepada Pemerintah Indonesia. (Baca penyalahgunaan visa dua jurnalis itu di: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/10/14/media-dan-aktivis-siapa-memanfaatkan-siapa–680333.html)
Dalam hitung-hitungan mereka jika Benny Wenda bisa meraih Nobel Perdamain, bisa semakin mendekatkan mimpi mereka untuk melepaskan Papua dari wilayah kedaulatan Indonesia. Sebuah misi utama yang sedang diperjuangkan Benny dari markasnya di Oxford, Inggris. Mereka lupa bahwa para politisi Inggris baru saja “menggagalkan” upaya pemisahan Skotlandia dari Inggris Raya (Referendum Skotlandia) pada pertengahan September lalu. Selain itu, para pemenang Nobel Perdamaian tahun ini adalah para pejuang hak anak. Berbeda dengan Benny Wenda yang justru “mempekerjakan” ke enam anaknya untuk menari tarian khas Papua di pinggir jalan di Kota Oxford guna menarik perhatian warga Inggris atas aksi demonstrasi yang mereka gelar di tempat itu. Dan lagi, Malala dan Kailash adalah benar-benar tokoh perdamaian yang layak dijadikan panutan. Lihat saja Malala misalnya, ia adalah korban penembakan yang lolos dari maut, bukan pelaku menembakan yang melenyapkan nyawa orang lain. Demikianpun Kailash Satyarthi adalah penganut nilai-nilai hidup Mahatma Gandhi yang melakukan perlawanan secara damai, bukan dengan senjata

Sumber: Kompasiana.com , Tempo.co, Umaginwes.com
Penulis : Muhai_Tabuni

Jumat, 17 Oktober 2014

Vanuatu Berencana Buka Kedutaan di Jakarta


Marty Natalegawa - Menteri Luar Negeri

Jakarta, Papua_http : Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, mengatakan bahwa Bali Democracy Forum memiliki manfaat yang baik untuk negara-negara di Asia Pasifik. Bahkan, kata dia, bisa mempererat hubungan bilateral antarnegara.
Salah satu contohnya, kata Marty, Indonesia dengan Vanuatu yang sebelumnya digambarkan punya hubungan tidak harmonis, bahkan saling berseberangan.

“Sekarang sudah berubah 180 derajat,” kata Marty di Nusa Dua, Bali.
Bahkan, kata dia, rencananya Vanuatu akan membuka kedutaan besarnya di Jakarta. Marty mengatakan, dia mengundang Menteri Luar Negeri Vanuatu dalam acara BDF ini untuk meningkatkan kerjasama dengan Indonesia.

“Kalau ada berbeda pandangan justru harus meningkatkan komunikasi. Kita punya kepentingan yang sama, misalnya terhadap kelautan, hak asasi dan lainnya,” kata dia.
Sebelumnya, Indonesia dan Vanuatu sempat bersitegang karena negara itu mendukung gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sikap Vanuatu ini, dinilai tak sejalan dengan semangat kerjasama Forum Kepulauan Pasifik.

Kesempatan baik ini bisa kita manfaatkan untuk memberikan pengertian dan menyelaraskan pandangan tentang etika hubungan bilateral antar negara. Menlu Vanuatu mengatakan "Saat ini Vanuatu mulai mengerti dan memahami bahwa Indonesia itu juga mencakup Papua, sampai kapanpun akan seperti itu. Hanya sekelompok oknum saja yang berusaha memperkeruh suasana di Papua."
/Red-Muhai_Tabuni

[dari berbagai sumber]

Kamis, 16 Oktober 2014

Media dan Aktivis, Siapa Memanfaatkan Siapa?

Jurnalis Perancis yang tertangkap di Wamena 7 Agustus 2014 (foto:tabloidjubi.com)

Papua_http :Sejumlah aktivis ditangkap pada Senin (13/10/2014) saat sedang berunjuk rasa di Kota Jayapura, Papua. Kapolres Kota Jayapura AKPB Alfred Papare mengatakan, penangkapan dilakukan karena unjuk rasa itu tak memiliki izin.
“Mereka masih dimintai keterangan. Hingga saat ini dari belasan orang tersebut tak ada yang bersedia menjawab pertanyaan penyidik. Kami akan terus kembangkan,” kata Kapolresta Jayapura sebagaimana dikutip www.liputan6.com kemarin.
Para pengunjuk rasa adalah para aktivis politik Papua merdeka dari organisasi yang mereka sebut KNPB (Komite Nasional Papua Barat) berjumlah sekitar 17 orang. Aksi unjuk rasa dilakukan terkait masih ditahannya dua jurnalis asal Perancis yang ditangkap di Wamena 7 Agustus 2014 lalu dan hingga saat ini masih berada dalam tanahan Polda Papua dalam rangka menjalani proses hukum. Kedua jurnalis itu adalah Thomas Charles Tendies (40) yang bekerja di ARTE Televisi Perancis dan Louise MarieValentine Burort yang bekerja di Media Online Perancis. Keduanya ditangkap aparat Polres Jayawijaya karena menyalahgunakan visa turis untuk melakukan pekerjaan jurnalistik di wilayah Papua. Para pengunjuk rasa menuntut agar dua jurnalis asing segera dibebaskan.

Itulah fakta yang terjadi di Papua sehari yang lalu. Tapi peristiwa penangkapan itu menimbulkan gaung luar biasa di luar sana. Ia telah menghiasi sejumlah situs berita media asing seperti website Radio New Zealand (www.radionz.co.nz), Pacific.scoop.co.nz, world.einnews.com, workersbushtelegraph.com.au, pidp.eastwestcenter.org, awpasydneynews.blogspot.com, dan entah website apalagi.

Kaca mata Media dan Aktivis

Mari kita simak isi berita versi liputan6.com di atas. Faktanya adalah: (1) ada aksi demonstrasi; (2) demo itu menuntut pembebasan dua jurnalis Perancis yang ditahan Polda Papua; (3) Karena demo itu tidak mengantongi ijin dari aparat keamanan maka demo itu dibubarkan dan sejumlah pengunjuk rasa digiring ke Mapolres Jayapura untuk dimintai keterangan.

Mana yang paling substansi dari rangkaian peristiwa tersebut: aksi demonstrasikah? Pembubaran dan penangkapan oleh polisikah? ataukah tuntutan yang disampaikan dalam aksi demo itu? Jawabannya tergantung dari sisi mana kita melihat.

Dari kacamata media, prinsipnya jelas : bad news is good news. Apalagi tuntutan dalam aksi demonstrasi itu terkait erat dengan upaya membebaskan jurnalis yang ditahan. Bagi media, memberitakan aksi demonstrasi tersebut sekaligus sebagai aksi solidaritas mereka bagi rekan-rekan seprofesi yang sedang ditahan. Soal apakah para pelaku aksi demo itu punya kepentingan lain, itu nomor dua. Yang jelas keinginan para jurnalis agar kedua jurnalis itu dibebaskan, murni datang dari dorongonan solidaritas yang mulia.

Lain lagi kaca mata para aktivis. Pembubaran dan penangkapan oleh polisi itulah yang ditunggu-tunggu. Apa yang dituntut dalam aksi demo juga penting bagi mereka karena nilainya sama-sama strategis dengan pembubaran dan penangkapan pelaku demo. Nilai strategisnya terletak pada pesan bisa disampaikan ke publik, bahkan ke dunia internasional, yaitu adanya pembungkaman demokrasi di Papua. Sementara alasan mengapa polisi membubarkan aksi demo, menangkap para pelaku aksi demo maupun penahanan terhadap kedua jurnalis itu tidaklah penting, bahkan “harus” diabaikan.

Kaca mata Polisi

Sedangkan dari kaca mata Polisi, justru apa yang dinomor-duakan dan yang “harus” diabaikan itu, itulah yang paling penting. Mengapa? Karena itulah tugas mereka dan untuk itulah mereka digaji oleh rakyat.

Dengan membuang jauh-jauh keinginan untuk menyalahkan salah satu pihak, sebuah pertanyaan kritis patut dilayangkan guna mensikapi peristiwa di atas, adalah kepada siapa kita mesti berpihak?

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika kita punya pegangan yang sama, yakni melihat persoalan secara obyektif atau mendudukan permasalahan pada tempat yang semestinya.

Saya berpendapat, seyogyanya dimulai dari mengkritisi tindakan polisi, karena dalam pemberitaan di atas, Polisi lah yang menjadi subyek atau mungkin juga obyek yang disudutkan. Polisi adalah alat negara, maka tindakan polisi yang berdampak membatasi kebebasan publik “harus” berdasarkan peraturan perundang-undangan. Ketika polisi menangkap dan menahan dua jurnalis Perancis itu, adakah dasarnya? Ternyata ada, yaitu UU Keimigrasian, UU No. 6 Tahun 2011 pasal 122 huruf a tentang penyalahgunaan izin tinggal.
Memang soal identitas kewartawanan keduanya sudah diklarifikasi oleh Pemerintah Perancis, tetapi toh, pelanggaran sudah terjadi sehingga keduanya harus menjalani proses hukum. Status hukum mereka saat ini adalah sudah ditetapkan sebagai Tersangka. Melalui kuasa hukumnya Aristo Pangaribuan, kedua jurnalis itu sudah meminta maaf secara tertulis kepada Pemerintah Indonesia dan berjanji tidak menggunakan informasi apapun yang mereka peroleh di Papua yang berbau propaganda.
Demikianpun pembubaran dan penangkapan terhadap para aktivis papua itu, juga ada dasarnya yaitu UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Dalam undang-undang tersebut memuat pula tata cara pemberitahuan kegiatan secara tertulis kepada Polri setempat selambat-lambatnya 3×24 jam sebelum kegiatan diadakan. Filosofi dari pemberitahuan tersebut semata-mata agar para pelaku aksi unjuk rasa mendapatkan perlindungan keamanan dari Polri serta tidak mengganggu ketertiban umum.
Barangkali benar versi para aktivis KNPB itu bahwa mereka sudah menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada Polisi. Tetapi yang pasti Polisi punya catatan sendiri tentang KNPB atas aksi unjuk rasa yang mereka lakukan tanggal 26 November 2013 lalu. Seorang tukang ojek, Syamsul Muarif tewas terkena tusukan benda tajam para pendemo, dan sejumlah orang luka-luka. http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/11150-korban-demo-rusuh-knpb-meninggal
16 Oktober 2013 dalam aksi demo KNPB di Yahukimo, satu orang tewas, dua kritis. http://papuapost.com/2013/10/demo-knpb-di-yahukimo-1-tewas-dan-2-kritis/
4 Juni 2012 dalam aksi demo KNPB di Waena, 6 orang luka-luka dan 1 orang pendemo tewas diduga akibat terinjak-injak oleh kelompok massa yang berhamburan ketika dibubarkan aparat. http://www.tribunnews.com/regional/2012/06/05/polisi-amankan-43-massa-knpb-soal-demo-papua-merdeka
Nah, dari fakta-fakta yang terungkap, saya berani menyimpulkan bahwa para aktivis papua merdeka yang tergabung dalam KNPB sedang ‘memanfaatkan’ isu penangkapan dan penahanan jurnalis Perancis tersebut untuk kepentingan eksistensi organisasi mereka. Seringnya aksi-aksi demo KNPB yang berakhir anarkis dengan sendirinya telah membatasi ruang gerak mereka. Isu penahanan kedua jurnalis Perancis itu hanya semacam ‘tameng’ untuk melindungi kepentingan politik organisasi sayap politik OPM ini. Semoga para jurnalis kita tidak terjebak

Sumber : Tabloidjubi, Bintang Papua, Papuapost, Tribunnews
Penulis : Tinus_Warobay 

Dukung Pemerintahan Jokowi, Pemuda Papua Luncurkan Program Kemitraan


Ketua FKGMP Armatius Tabuni sedang berpidato
Kecintaan terhadap Jokowi oleh masyarakat Papua telah merebak hingga kalangan muda. Pemuda-pemuda Papua yang selama ini biasanya tidak peduli bahkan cenderung menolak kebijakan apa saja yang datang dari Pemerintah Pusat, kini malah proaktif menggagas ide kreatif dan menawarkannya kepada Pemerintah sekaligus meminta dukungan.
Ide kreatif dimaksud telah mereka deklarasikan pada Rabu, 8 Oktober 2014 di Lapangan Makam Theys Eulay, Sentani. Mereka membentuk sebuah forum dan yaitu Forum Kebangsaan Generasi Muda Papua (FKGMP) dipimpin Armatius Tabuni, Edison Awoitauw dan Gim Tabuni. Mereka adalah para sarjana pertanian yang memiliki mimpi besar untuk memajukan pertanian serta mensejahterakan para petani di Tanah Papua.


Saya menyebutnya ‘tak lazim’ karena hal positif seperti ini jarang dilakukan oleh para pemuda Papua yang selama ini terkesan apatis terhadap program Pemerintah. Apalagi memilih tempat deklarasi di Lapangan Makam Theys Eulay yang biasanya digunakan oleh para pemuda aktivis pro kemerdekaan papua untuk berorasi dan berunjuk rasa menuntut referendum ulang.

Bermitra dengan Pemerintah

Dihadiri sekitar 1000 muda-mudi Papua, Armatius Tabuni, Edison Awoitauw dan Gim Tabuni mendeklarasikan FKGMP beserta program kerja pro petani Papua. Mereka telah membentuk pengurus daerah FKGMP di 14 kabupaten/kota di seluruh Papua, yaitu daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian untuk dikembangkan dengan berbasis kearifan lokal. Melakukan pemberdayaan sosial budaya pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata dan kelautan. Para pengurus FKGMP dari daerah-daerah tersebut ikut hadir dalam acara deklarasi itu.


“FKGMP siap mendukung visi misi pemerintah baik Pusat maupun dari Pemprov Papua menjadikan masyarakat Papua mandiri, sejahtera, makmur, adil, dan bermartabat.” Demikian sambutan Ketua FKGMP Provinsi Papua, Armatius Tabuni.
Menurut Tabuni, selama ini belum ada lembaga independen yang bermitra dengan pemerintah guna membicarakan hak-hak para petani yang ada di Papua.
“Sehingga kami membentuk lembaga ini untuk bermitra kepada pemerintah, agar pendapatan dari rakyat Papua bisa jelas dan juga perekonomiannya dapat meningkat,” jelas Tabuni. http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/17658-ribuan-pemuda-dan-masyarakat-hadiri-deklarasi-fkgmp
Cetak biru program kerja FKGMP siap ditawarkan kepada Pemerintahan Jokowi, karena menurut Tabuni, Papua merupakan wilayah prioritas pembangunan di era Jokowi nanti. Perhatian Presiden terpilih Jokowi terhadap Papua sudah sangat tampak sejak masa kampanye yang mana telah memilih Papua sebagai tempat pertama kampanyenya. Juga program tol laut sudah dicanangkan akan dimulai dari Pelabuhan Sorong. Sehingga produk-produk pertanian seperti sayuran dan buah-buahan serta hasil ternak dari para petani binaan FKGMP dapat didistribusikan secara cepat dan mudah ke berbagai daerah yang membutuhkannya.
Untuk tahap pertama, demikian paparan ketua FKGMP, produk pertanian mereka akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan ribuan karyawan PT Freeport di Mimika, serta ke BUMN-BUMN lainnya yang ada di Tanah Papua.
Semoga FKGMP bisa menginspirasi para pemuda Papua lainnya untuk lebih peduli pada pembangunan di tanah kelahirannya. Pemerintah semestinya mengapresiasi ide kreatif para pemuda tersebut dan meresponnya secara positif.

Sumber : bintangpapua.com & sumber lainnya
Penulis : Muhai_Tabuni

Yapen Island Operation ( Memburu DPO Papua di Kepulauan Yapen )

 
Selebaran yang di tempel di beberapa tempat di Kota Serui memajang foto dua orang anggota TPN/OPM anak buah Rudy Orarey yang kini menjadi buronan dan masuk DPO Polres Yapen. (foto: suluhupapua.com)

Jayapura, Papua_http : Setelah pada awal Oktober lalu Polda Papua mengeluarkan Daftar Pencarian Orang (DPO) yang memuat nama sejumlah orang pelaku kriminal, Polda kini mulai melakukan penyisiran. Sabut (11/10/2014), Tim khusus Polres dan Kodim Kepulauan Yapen, Papua menggerebek markas OPM pimpinan Maikel Merani di Angkaisera, Yapen.
Sempat terjadi baku tembak. Anggota OPM kocar-kacir lari ke hutan. Dalam penggerebekan itu, Tim khusus menemukan amunisi mouser 20 butir, 5 pucuk senjata api rakitan, satu buah motor vixon, dan baju seragam loreng. Tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat sangat mendukung operasi kamtibmas tersebut mengingat selama ini kelompok Maikel Merani yang beranggotakan 15 oarang itu selalu membuat warga setempat resah karena selalu memeras warga bahkan mengancam warga dengan senjata. Warga lalu melaporkan aksi kelompok tersebut kepada Polres Kepulauan Yapen.

Awal Oktober lalu Maikel Merani sudah dimasukan dalam DPO Polda Papua. Selain Maikel, juga ada satu nama anak buah Maikel yang masuk DPO, yaitu Noki Orarei. Polres Kepulauan Yapen memberikan deadline hingga 6 Oktober 2014 agar kedua DPO dari Yapen tersebut menyerahkan diri. Namun hingga batas waktu yang ditentukan, kedua tokoh yang sering terlibat dalam sejumlah aksi kriminal tersebut tidak mengindahkan himbauan aparat keamanan. Maka tindakan hukumpun dilakukan dengan cara melakukan penggerebekan di markas kedua pelaku tersebut.
Menurut Kapolres Kepulauan Yapen AKBP Gatot Suprasetya, kedua DPO tersebut terlibat berbagai kasus kriminal seperti pembunuhan, makar, dan pembakaran polsek Angkaisera. Keduanya adalah anak buah dari pada Rudy Orarei yang tewas ditembak aparat di kampung Kainui, Distrik Angkaisera pada September 2014 lalu.

“…kalau mengganggu keamanan, siapapun dia, termasuk kelompok Fernando Worabay di Sasawa dan Erik Monitory akan saya tindak tegas dan saya buru.  Karena tujuan saya baik, yakni untuk kemanan didaerah ini baik, supaya pembangunan bisa berjalan dan selama mereka (kelompok sipil bersenjata-red) tidak mengganggu, kami juga tidak memburu mereka,’’ ungkap Kapolres Kepulauan Yapen awal Oktober lalu. http://suluhpapua.com/read/2014/07/02/2-anggota-tpnopm-yapen-masuk-dpo-polisi/

Denda 2 Milyar

Sikap tegas aparat keamanan di Papua memang dibutuhkan mengingat aksi-aksi kriminal kelompok sipil bersenjata tampaknya semakin brutal. Warga sering menjadi korban pemerasan, pemalakan hingga penembakan. Di wilayah Puncak, sudah diberlakukan perjanjian tertulis antara aparat keamanan dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan Pemda setempat. Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 27 September 2014 itu isinya antara lain, masyarakat Kab. Puncak menolak keberadaan OPM di wilayah mereka. Jika ada yang membunuh atau menembak aparat keamanan, maka keluarganya rela membayar denda adat sebesar Rp 2 milyar. Masyarakat dan pihak yang ikut serta dalam tindakan pembunuhan tersebut atau diketahui menampung, memberikan perlindungan, makan kepada anggota TPN-OPM yang melarikan diri setelah membunuh aparat keamanan juga akan menjalani proses hukum yang berlaku. Keluarga tidak akan menuntut denda adat kepada aparat keamanan jika ada anggota keluarga mereka yang meninggal dalam karena kontak tembak dengan aparat yang tengah berpatroli.

Sikap tokoh masyarakat, tokoh gereja dan tokoh pemuda yang didukung Bupati dan DPRD Kabupaten Puncak tersebut patut diapresiasi dalam rangka menciptakan situasi kondusif di wilayah yang sering terjadi aksi penembakan tersebut. Sudah banyak anggota Polisi dan TNI maupun warga sipil yang menjadi korban kebrutalan kelompok sipil bersenjata. Aktivitas warga sangat terganggu, pembangunan oleh pemerintah di wilayah itu juga terhambat. Maka sudah selayaknya institusi keamanan di Papua memberikan perhatian serius dan penanganan secara sungguh-sungguh, dengan tetap berlandaskan hukum dan menghormatan terhadan hak asasi (HAM). Semoga.
/Red*Muhai_Tabuni

SBY Sematkan Bintang jasa pada 6 Tokoh asal Papua



 
Penyematan Bintang Jasa

Jakarta - Papua_http. pada penghujung masa jabatannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri memberikan bintang penghargaan kepada puluhan tokoh yang dinilai berjasa dan telah memberikan sumbangsih serta bhakti mereka pada negara. Seluruh tokoh yang pernah tergabung dalam kabinet pemerintahan SBY sejak 2004 hingga sekarang ini dianugerahi bintang. Penganugerahan penghargaan itu dilakukan di Istana Negara, Senin (13/10/2014). Pemberian tanda kehormatan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 89 TK Tahun 2014 dan Keppres 90 TK Tahun 2014.
Namun ada satu hal yang menarik pada Prosesi penganugerahan tersebut. Diantara 68 tokoh dari berbagai kalangan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, terdapat penerima Bintang Jasa asal Papua yang dinilai berjasa, yaitu :
1. Karel Sesa – tokoh masyarakat Papua lintas agama.
2. Pendeta Herman Saud – tokoh masyarakat Papua yang aktif dalam perdamaian lintas agama.
3. Pendeta Seppy Uyo – tokoh Papua pembebasan Irian Barat 1962.
4. Almarhum Frans Alexander Wospakrik – tokoh Papua yang aktif dalam pengembangan perguruan tinggi.
5. Titi Yuliana Marey – tokoh Papua yang membantu penyelesaian konflik di pegunungan.
6. Febiola Irianni – tokoh Papua dalam pendidikan dan persamaan hak kewajiban.
Satu hal yang dapat kita petik, bahwa Segala bentuk bakti dan dedikasi kita untuk bangsa akan sangat berharga bagi “mereka” yang membutuhkan, akankah kita berusaha menutup mata dan melawan nurani disaat “saudara” kita mengeluh dan menderita menunggu uluran tangan kita? Saatnya kita tunjukkan bahwa Papua Bisa!!!

(Red*/Warobay)

[dari berbagai sumber]

Selasa, 14 Oktober 2014

NARKOBA SEBAGAI TRANSNATIONAL ORGANIZED CRIME

Narkotika

Upaya penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkoba telah dilakukan oleh pemerintah sejak puluhan tahun yang lalu. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan sendiri, tetapi melibatkan negara – negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dan negara – negara lain yang memiliki kaitan dengan peredaran narkoba secara ilegal. Jenis kejahatan ini merupakan salah satu dari transnasional organized crime, yaitu kejahatan melibatkan jaringan lintas negara. Hasil pengembangan berbagai kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesai, sebagian besar melibatkan jaringan yang ada di negara lain. Oleh karena itu, dalam rangka memperkuat upaya penanggulangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, telah disahkan Undang Nomor 5 tahun 2009 tentang ratifikasi protokol PBB menentang Kejahatan Lintas Negara yang terorganisir, dimana Undang – Undang tentang Narkoba termasuk didalamnya.

Di dalam penjelasan Undang Nomor 5 tahun 2009 Tindak pidana transnasional yang terorganisasi merupakan salah satu bentuk kejahatan yang mengancam kehidupan sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan perdamaian dunia. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di samping memudahkan lalu lintas manusia dari suatu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain, juga menimbulkan dampak negatif berupa tumbuh, meningkat, beragam, dan maraknya tindak pidana. Tindak pidana tersebut pada saat ini telah berkembang menjadi tindak pidana yang terorganisasi yang dapat dilihat dari lingkup, karakter, modus operandi, dan pelakunya.

Hal ini terbukti beberapa hari yang lalu ketika Bareskrim Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Narkotik telah berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu sebanyak 71 kilogram, sindikat internasional berperan dalam kasus tersebut.. Berbagai modus pengiriman dari luar negeri sering digagalkan baik melalui darat, laut dan udara. Pada tanggal 9 Oktober, pihak Bea dan Cukai bekerja sama dengan Polda Bali mendapatkan 1178 gram sabu – sabu di Bandara Ngurahrai Denpasar Bali yang dikirim melalui ekspedisi dari China.

Kondisi geografis negara kita yang strategis di kawasan regional dan jumlah penduduk Indonesia yang besar, menjadi pangsa pasar tersendiri bagi jaringan narkoba untuk meraup keuntungan dari bisnis ilegalnya. Upaya untuk mencegah bahaya narkoba tentu dimulai dari diri sendiri dan keluarga kita, agar kita tidak menjadi pasar ataupun jaringan peredaran narkoba.

Senin, 13 Oktober 2014

Taman Indonesia di Belgia dan Australia



Khusus bagi orang Indonesia yang tinggal di luar negeri atau kebetulan sedang berada di sana. Tak ada salahnya menyempatkan waktu sejenak untuk nostalgia atau sekedar melepas kangen akan kampung halaman di dua taman berikut ini.

Adalah Taman Indonesia namanya, taman ini merupakan taman yang sangat bertemakan Indonesia yang berada di dua negara yaitu di Belgia dan Australia. Nah, kenapa hanya di dua negara tersebut dan tidak di negara lainnya? hmmm, jawaban terbaiknya mungkin bisa ditanyakan ke pihak-pihak yang terkait kenapa hanya di Belgia dan Australia saja ada Taman Indonesia.

Ok, terlepas dari alasannya kenapa, namun dengan adanya dua taman Indonesia di dua negara tersebut menjadi semacam bukti pengakuan dan penghargaan bahwa Indonesia, dus kekayaan alam maupun budayanya berhasil memikat hati negara lain.

1.Taman Indonesia di Belgia
Taman di Belgia ini bernama The Kingdom Of Ganesha dan merupakan taman Indonesia satu-satunya di Eropa. Lokasinya berada di Parc Paradisio, Brugelette. Parc Paradisio ini adalah sebuah taman konservasi flora dan fauna yang dibangun sejak 2000 di tengah sisa bangunan chateau (kastil tua), dengan koleksi sekitar 1500 spesies tanaman dan 3500 spesies binatang.

Taman Indonesia sendiri luasnya mencapai 5 hektar dan di dalamnya banyak terdapat benda-benda yang sangat kental dengan Indonesia. Sebut saja, Puri Agung Shanti Buwana yang ukurannya sebesar ukuran sesungguhnya di Bali yang berdiri di atas sawah bertingkat ala sawah di Ubud. Selain itu juga ada replika besar candi Prambanan yang menjulang tinggi, serta bongkahan batu besar berderet ala Gunung Kawi di balik tembok candi.

Nah, di depan gerbang tamannya sendiri ada Rumah Toraja, replika candi Borobudur dan di bagian belakang tampak rumah tradisional Nusa Tenggara Timur, berderet melingkari ujung taman. Sampai dengan beragam patung, akar pohon tua, dan batang kayu pohon besar, yang telah menjadi fosil dari daerah Banten. Tak hanya itu, nanti dalam perkembangannya taman indonesia juga akan dilengkapi dengan dengan gajah Sumatera.

Adanya taman ini adalah berkat kecintaan CEO Parc Paradiso yang bernama Eric Domb kepada Indonesia. Dia membangun kompleks ini dengan dibantu oleh para seniman yang khusus didatangkan dari Bali. Pun dengan 22 orang pekerja yang juga didatangkan dari Bali dan Jawa Tengah.

Untuk menjaga keaslian dan keindonesiaan, batu-batu untuk membangun pura besar dan seluruh lapisan jalan setapak berasal dari Indonesia. Totalnya ada sekitar 320 kontainer batu-batu candi diimpor dari lereng gunung Merapi Jawa Tengah. Kerja keras membangun taman ini akhirnya terselaikan dua tahun kemudian sejak akhir 2006 kali pertamanya dibangun. Nah, pada saat peringatan 60 tahun dibukanya hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia, taman ini pun diresmikan oleh para pejabat dari kedua belah negara.

Taman ini pun tidak hanya menjadi pusat rekreasi yang menawarkan keakraban alam, manusia, dan kebudayaan, tetapi juga konservasi berkonsep moderen, yang mengibarkan promosi permanen bagi pariwisata, ekonomi dan investasi Indonesia di jantung Uni Eropa.

2.Taman Indonesia di Australia
Berbeda dengan Taman Nasional Kingdom of Ganesha, Taman Indonesia di Australia ini tidak berada di sebuah tempat konservasi, melainkan berada di sebuah kampus yang bernama Universitas Charles Darwin(CDU).

Taman Indonesia di Australia ini juga tidak sebesar taman yang ada di Belgia karena hanya dilengkapi beberapa pohon khas Nusantara, sebuah rumah model Minahasa, Sulawesi Utara yang merupakan taman kedua di lingkungan CDU setelah Taman Republik Rakyat China.

Selain itu juga terdapat patung "Garuda" dan "Saraswati" yang terletak di depan kantor baru rektorat CDU. Patung "Garuda" disumbangkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia, sedangkan patung perunggu "Saraswati" merupakan sumbangan Sultan Hamengku Buwono X yang dibuat oleh PT Studio Santiaji.

Proses pembangunan Taman Indonesia memakan waktu selama tiga tahun. Lamanya pembuatan lantaran ada hambatan dalam penyediaan dana pembuatan. Kendati begitu, taman ini pun rampung sepenuhnya pada tahun Oktober 2009 ini. Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Canberra termasuk di antara pihak yang menyumbangkan dana bagi pembangunan taman yang akan mempertegas eksistensi Indonesia di negara bagian Northern Territory dan CDU.

Masyarakat Lanny Jaya : " Tangkap & BASMI KKB Papua "

 
Lanny Jaya
Masyarakat Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua  saat ini  sudah merasa sangat resah dan terganggu serta tidak nyaman dengan adanya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang mengatas namakan diri mereka sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Seluruh elemen masyarakat Lanny Jaya yang meliputi tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, anggota DPRD, tokoh Pemuda, kepala distrik, kepala kampung, tokoh intelektual Kabupaten Lanny Jaya memberikan 6 pernyataan sikap yang telah disepakati bersama pada hari Senin tanggal 6 Oktober 2014 dalam menyikapi situasi keamanan di Lanny Jaya yang selama ini dilakukan oleh KKB.
Adapun isi dari 6 pernyataan sikap apabila terjadi lagi tindak kekerasan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di seluruh daerah Kabupaten Lanny Jaya maka telah disepakati sebagai berikut :
- Setiap kepala distrik, kepala kampung, LMD, tokoh gereja, kepala suku, intelektual dan seluruh masyarakat Lanny Jaya berkewajiban menjaga dan bertanggungjawab penuh atas terjadinya tindak kekerasan kriminal bersenjata didaerah/dikampungnya masing-masing.
- Apabila tindakan kekerasan oleh KKB terjadi lagi maka seluruh masyarakat akan melakukan perlawanan secara fisik terhadap KKB dimaksud. Apabila masyarakat tidak mampu menghadapi kekerasan KKB, maka memberikan ruang seluas-luasnya kepada TNI-Polri untuk berupaya melakukan penegakan hukum dan jika eskalasinya semakin tinggi maka aparat keamanan dapat melakukan operasi pengejaran terhadap KKB. Dampak operasi pemulihan keamanan seperti terbakarnya honai/rumah, kerugian harta benda menjadi tanggung jawab masyarakat yang memberikan ruang/tempat bagi KKB untuk melakukan aksi tersebut.
- Apabila terjadi korban manusia maka langkah-langkah yang diambil adalah jika ada korban sipil yang dilakukan oleh TNI/Polri ditempat kejadian maka yang bertanggungjawab adalah masyarakat yang memberi ruang dan tempat kepada KKB dan keluarganya dapat dilakukan denda adat. Jika terjadi kelalaian aparat TNI/Polri maka hal tersebut merupakan pelanggaran HAM dan sewaktu-waktu Pemda Lanny Jaya akan melakukan ganti rugi. Jika ada Anggota TNI/Polri yang terbunuh karena KKB dengan cara mencegat atau melakukan penyerangan di tempat tertentu maka dapat dijatuhkan sangsi adat dan yang bertanggung jawab disini adalah masyarakat pemberi ruang/tempat kepada KKB dan keluarganya serta kelompok kriminal yang melakukan aksinya. Apabila penembakan ataupun penghadangan terjadi dan dipastikan tidak diketahui oleh aparat desa maka pihak TNI/Polri akan bersikap profesional dalam menghadapi kejadian tersebut.
- Kepala Distrik, Kepala Kampung, LMD dan semua aparat Negara yang bertugas di Daerah, Distrik, Kampung wajib melakukan upaya kewaspadaan dini dengan melakukan tugas keamanan didaerahnya dan apabila masih terjadi lagi maka status kedinasan dari Kepala Distrik, Kepala Kampung dan LMD akan ditinjau.
- Apabila ditemukan aparat PNS, TNI dan Polri yang memberikan kontribusi dukungan kepada KKB, maka bagi PNS status kedinasannya akan di tinjau sedangkan untuk aparat TNI/Polri akan diproses sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
- Apabila kedapatan ada anak-anak dari kampung tertentu yang ikut-ikutan dengan KKB, maka pemerintah akan berurusan dengan kampung tersebut dan keluarga dari anak-anak tersebut.
Keenam Pernyataan sikap ini merupakan pernyataan sikap tertulis yang ditandatangani langsung oleh Bupati Lanny Jaya Befa Yigibalom SE, M.Si, Wakil Bupati Berthus Kogoya SH, Ketua DPRD Lanny Jaya Nius Kogoya S.Th, Ketua BPP-PGBP Pernius Kogoya DIP, TH, Dandim 1702/JWY Letkol Inf. C.D.B Andires SH, Kapolres Lanny Jaya Kompol Ali Sadikin SH, MAP, M.Si, dan Danyon 756/WMS Letkol Inf. Andi Parulian SIP.
Bupati Kabupaten Lanny Jaya Befa Yigibalom SE, M.Si juga telah mengatakan masyarakat Lanny Jaya sudah mengambil komitmennya untuk menyatakan sikap. Oleh sebab itu, masyarakat harus proaktif agar dapat mewujudkan keamanan ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Lanny Jaya.
Selain itu, Ketua DPRD Lanny Jaya Nius Kogoya juga mengatakan bahwa pabrik pembuatan senjata tidak ada di Lanny Jaya. Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada aparat keamanan agar dapat menangkap oknum-oknum yang menyalurkan senjata dan juga munisi kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Ini adalah ungkapan langsung yang dikeluarkan oleh Ketua DPRD Lanny Jaya Nius Kogoya, “Pabrik dan mesin untuk membuat senjata dan peluru itu tidak ada di Lanny Jaya, tidak ada di Papua, karena itu kami masyarakat Lanny Jaya menyatakan sikap dan tangkap orang itu,”.
Diharapkan oleh seluruh masyarakat Lanny Jaya agar TNI/Polri bukan hanya sekedar menjadi partner dengan pemerintah, tetapi juga harus bergandengan tangan dengan masyarakat awam agar masyarakat dapat dididik/dibina masalah bela negara sehingga bisa menuju kearah yang benar.
Perlu diingat dan dipahami bahwa yang dikeluarkan oleh masyarakat kabupaten Lanny Jaya ini yaitu merupakan “pernyataan” yang telah ditanda tangani, bukan hanya sebuah perkataan yang hanya diucapkan dan dapat hilang begitu saja.

Jumat, 10 Oktober 2014

Simbol Israel Bertebaran di Papua

 
lambang bintang daud pada bendera Israel
Jayapura -- Lambang bintang david yang menjadi simbol bendera Israel bertebaran di bumi papua. Di Jayapura, Timika, Wamena, Jayawijaya, terlihat banyak simbol bintang david di rumah, gereja, dan di lereng bukit.
Pantauan Redaksi kami, salah satu gereja di Wamena, Gereja Betlehem, memiliki plang nama yang di bawahnya mencantumkan lambang bintang david. Tak hanya itu, sebuah lambang bintang david pun tampak terlihat di sebuah batu di lereng bukit di Distrik Kurulu. 
 
Seorang dokter pegawai tidak tetap (PTT) dr Dewi Sukma Sari yang bertugas di Distrik Dekkei, Yakuhimo pun mengaku sering melihat lambang bintang david di daerah tugasnya. Terakhir, ujarnya, ada seorang anak kecil yang mengenakan kaos bertuliskan 'Merdeka Bersama Israel, Membangun Bersama Indonesia'.
 
Meski demikian, tokoh masyarakat pendatang di Wamena, Agus Sudarmaji, menjelaskan, banyak warga asli yang sebenarnya tidak mengerti lambang bintang david tersebut. Dia mengungkapkan, beberapa warga mengasosiasikan lambang itu dengan tempat kelahiran Nabi Isa yang menurut mereka, dikuasai oleh Israel, yakni Betlehem. 
 
"Kebanyakan sih cuma pasang-pasang saja. Tapi mereka enggak mengerti apa itu bintang david,"ungkap Agus saat berbincang dengan RoL pekan lalu. Meski demikian, dari informasi yang diperoleh dari warga setempat, banyak pejabat tinggi di Jayawijaya yang berziarah ke Israel.

Batas Pendaftaran CPNS Formasi Khusus Putra-Putri Asli Papua Hingga 19 Oktober 2014

Rincian Statistik UP4B
Jumlah yang sudah berhasil mendaftar CPNS Formasi Khusus OAP 2014 hingga di http://sscn.bkn.go.id per 09 Oktober 2014 pukul 10:45 WIT mencapai 558 orang.
Deputi I UP4B sudah mengirimkan surat kepada Menpan untuk meminta pengunduran pendaftaran ditutup hingga 19 Oktober 2014 pukul 23:59 WIB.

Jabatan yang tertinggi peminatnya:
  • 3 orang Pengumpul dan Pengolah Data Program Pengembangan Kompetensi Pendidik - KemDikBud = 198 pelamar
  • 1 orang Protokol - KemPANRB = 160 pelamar
  • 1 orang Analis Kebijakan - KemPPA = 123 pelamar
Jabatan yang masih 0 pelamarnya:
  • 1 orang Analis Ketahanan Keluarga - BKKBN, S1 - Gizi/Psikologi
  • 2 orang Medik Veteriner Pertama - KemTan, Dokter Hewan
  • 1 orang Pengawas Farmasi & Makanan - BPOM, S1 - Apoteker
  • 1 orang Pengawas Lingkungan Hidup - KemLH, S2 - Kehutanan
  • 2 orang Sekretaris - BPS , S1 - Sekretaris 

Siswi Asal Papua Di SMAN 3 Semarang Borong Medali pada Lomba Atletik Antar sekolah Di Kota Semarang

Siswi Asal Papua melanjutkan sekolah di Semarang

Papua_http - Semarang - Siswi peserta Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) di SMAN 3 Semarang sangat senang bisa melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa. Mereka mengaku sangat bangga bisa masuk ke SMA yang dikenal sebagai paling favorit di Kota Semarang. Mereka merasa bahwa program ini sangat bermanfaat bagi mereka karena bisa mendapatkan pendidikan yang bermutu.

Mereka bahkan aktif mengikuti kegiatan ektra kurikuler. Kegiatan yang mereka ikuti meliputi basket, bola voli, bulu tangkis, atletik dan seni tari. Terdapat 2 orang siswa yang sudah menunjukkan prestasi di bidang atletik. Mereka bahkan telah meraih medali  pada kejuaraan atletik antarsekolah di Kota Semarang. Prestasi yang telah disumbangkan, menurut catatan sekolah adalah: Untuk medali atletik POPDA SMP-SMA Se Kota Semarang Tahun 2014, nama Martha Santi Burdam, telah meraih Medali Emas lari 800 m dan Medali Emas lari 1500 m.

Martha
Martha tidak hanya menyumbangkan Medali untuk lari, tetapi  juga mendulang Medali Perak dan Perunggu untuk Lempar Cakram. Prestasi Martha tidak hanya berhenti di dua mata lomba, tetapi juga manyabet Medali Perunggu Lempar Peluru dan Medali Lempar Lembing. Juga mengikuti jejak Matha, adalah Jenna Rose Marie Taime telah berhasil meraih Medali Perunggu dan Perak untuk Lempar Lembing. Sedangkan pada cabang bola basket gadis ini memperkuat tim SMAN 3 Semarang dan memperoleh juara ketiga. “Saya sangat senang bisa berprestasi pada kejuaraan antarsekolah di Semarang” ujarnya. Siswi ADEM ini merupakan angkatan pertama yaitu angkatan 2013. “Saya  ingin melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian setelah tamat dari SMA ini”. Martha Santi Burdam juga memilih cabang atletik sebagai kegiatan ekstra kurikulernya.

Jenna  Rose Marie Taime
Sama halnya dengan Jenna  Rose Marie Taime, putri asal Kabupaten Raja Ampat ini juga telah menyumbangkan banyak medali dalam kejuaraan atletik antarsekolah di Kota Semarang. Memperoleh medali perak pada cabang lembing dan medali perunggu pada cabang lempar cakram merupakan hal yang sangat membanggakan baginya.  Selain aktif di cabang atletik, gadis ini menjadikan bola voli sebagai kegiatan dalam mengisi waktu luangnya. Siswi ADEM angkatan tahun 2013 ini bercita-cita untuk menjadi guru. “Saya ingin melanjutkan pendidikan di universitas dan ingin menjadi guru. Saya akan mengabdi di daerah kelahiran saya” ucapnya. Gadis ini merasa sangat betah melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa khususnya di Kota Semarang. 

Judith Flora Irene Awom
Sedangkan Judith Flora Irene Awom memilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) sebagai kegiatan ektra kurikulernya. Siswi ADEM angkatan 2014 ini sering mendapat tugas sebagai pengibar bendera pada upacara di sekolahnya. Putri asal Kabupaten Supiori ini sangat senang dan betah melanjutkan pendidikan di Kota Semarang. “Setelah lulus di SMAN 3 Semarang ini saya ingin melanjutkan pendidikan saya di Universitas Semarang (UNNES). Saya bercita-cita menjadi guru agar bisa mengajar di Tanah Papua. Gadis ini sudah merasa cocok dengan kota Semarang hingga memutuskan untuk terus melanjutkan studinya di kota ini.

Siswi-siswi ADEM SMA Negeri 3 Semarang bersama guru pembimbing dan Deputi III UP4B
Dalam kesempatan terpisah, Deputi III UP4B Bapak Agus Santoso menyampaikan kepada redaksi Papua_http, bahwa ia menyambut gembira prestasi yang telah diperoleh oleh siswi-siswi ADEM di SMAN 3 Semarang ini. Beliau berpesan agar anak-anak ADEM tetap semangat dan rajin belajar. Terlihat putri-putri Asal Papua ini mempunyai keinginan kuat untuk dapat menyelesaikan studinya di Kota Semarang ini.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tak main-main  untuk mengeluarkan kebijakan demi kemajuan kualitas generasi Papua guna menjadi cermin untuk membuktikan bahwa Papua itu mampu untuk mengukir Prestasi. *Red (Papua_http)

Kamis, 02 Oktober 2014

NFRPB hanya membuat pernyataan “BUSUK” tanpa persetujuan semua Pihak

Ilustrasi

Berkali-kali saya sudah membuat tulisan-tulisan tentang perkembangan yang ada di Papua meski pengetahuan saya masih sedikit tentang Papua. Saya sangat tertarik dengan keadaan keamanan yang ada di Pulau indah ini. Semakin dalam saya telisiki bahwa di Papua ini terdapat beberapa orang yang bertindak secara ekstrim untuk berusaha mempengaruhi masyarakat untuk memisahkan diri dari bingkai NKRI dan banyak seruan-seruan tidak jelas yang selalu mereka sebar-sebarkan.

Salah satunya adalah seperti pesan SMS (Short Message service) yang dikirim oleh Petrus Warabay (Simpatisan NRFPB) yang berisikan " Dari Kelompok Mahkamah Internasional pengacara Papua barat Miss. Jeniver Robinson mengingatkan bahwa sidang umum PBB yg digelar 19 Sept 2014 telah putuskan bahwa West Papua dimerdekakan pada 01 Desember 2014. Yang didukung oleh kerajaan Nippon, Korsel, New Calledonie, Solomon Island, New Zeland, UNI Eropa, France, Kerajaan Inggris, Israel. Jadi sidang 2 hari pertama akan diumumkan nanti ke seluruh dunia 24 November 2014 , Kita bersyukur pada tuhan Yesus dan terimakasih pada Vanuatu & Prancis, Inggris sbg ujung tombak UNI EROPA serta MOSSAD Israel krn Tuhan tlah menjawab linang air mata Rakyat bangsa Papua.”
Sebelumnya, SMS tersebut diterima dari Zakarias Horota (Sekretaris NRFPB) serta sebelumnya didapat dari dan atas perintah Frans Kapisa (MENKOPOLKAM NRFPB).
Disini saya berpendapat dengan cara-cara mereka menyampaikan dan menyerukan kata-kata tersebut bahwa mereka meragukan dan tidak dapat dipercaya karena yang menyampaikan secara tidak langsung.

Berkaitan dengan penyebaran isu berkembang dan menyatakan adanya dukungan yang diberikan London dan negara negara Uni Eropa yang mendukung Kemerdekaan Papua Barat yang dikemukakan oleh Jenifer Robinson ( Pengacara Asal Australia ) telah didapatkan beberapa kesimpulan bahwa telah terjadi manipulasi pernyataan yang disebarkan bahwasanya mereka mengatas namakan Kerajaan Inggris mendukung kemerdekaan Papua Barat, Padahal hal  tersebut hanya disampaikan oleh Jenifer Robinson sendiri yang pada saat itu ada di kantornya di Kota London – Inggris. “Dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Jennifer_Robinson_(lawyer) “From 2009, she worked at the London law firm of Finers Stephens Innocent LLP”.

Bahkan wanita berambut pirang ini juga sering kali memberikan pernyataan yang tak berdasar sedikitpun tentang Papua & Indonesia. Jika kita lihat berdasarkan biografinya sebagai seorang Pengacara Hak Asasi Manusia yang pernah dirilis oleh Okezone.com “ http://international.okezone.com/read/2013/05/13/411/805934/pengacara-australia-berkoar-soal-free-west-papua “Pengacara HAM tersebut, menyebutkan Pemerintah Indonesia yang melakukan pendudukan yang dilakukan di Papua. "Ratusan ribu warga Papua dibunuh atau dihilangkan secara sengaja oleh militer Indonesia," ujar Jennifer Robinson, dalam video YouTube yang diposting 9 Mei lalu, seperti disitat Okezone, Senin (13/5/2013).

Perempuan berambut pirang menyebutkan semua komentarnya tanpa ada data yang signifikan yang mendukung. Robinson juga mengeluarkan tudingan bahwa sumber daya alam Papua yang dieksploitasi oleh perusahaan asing. Lagi-lagi, Robinson turut menuduh Pemerintah Indonesia berandil besar dalam hal tersebut. Padahal jika kita simak secara cermat, bagaimana dengan nasib Suku Aborigin di negaranya sendiri yang tersingkir oleh Ras kulit Putih seperti Jenifer Robinson?

Kita sangkutkan dengan isi berita mereka mengenai sidang umum PBB, sidang umum PBB tidak ada sekata dua patahpun membahas mengenai kemerdekaan mengenai Papua. Melainkan Kunjungan SBY ke New York, Amerika Serikat memiliki fokus yang lebih global. Presiden SBY akan menyampaikan dalam Sidang ke-69 Majelis Umum PBB tentang pandangan Indonesia atas berbagai kecenderungan global dewasa ini serta kehadiran Presiden Yudhoyono di beberapa forum pembahasan multilateral lainya juga akan dimanfaatkan untuk memperjuangkan agenda-agenda strategis Indonesia, baik terkait isu tata kelola pemerintahan maupun pembangunan berkelanjutan. http://nasional.kompas.com/read/2014/09/21/12023631/Presiden.SBY.Tiba.di.New.York
Dengan tujuan Presiden SBY dalam menghadiri pada sidang umum PBB sudah jelas untuk membahas tentang pengelolaan pemerintahan maupun pembangunan berkelanjutan, bukan membahas tentang pembebasan Papua dan Papua Barat.

Kita ambil kesimpulan dari sini, bahwa seluruh maupun semua aktivis NFRPB itu hanya menyebar-nyebarkan isu-isu yang tidak jelas keberadaannya dan tidak jelas dia mengambil keputusan dari mana.
Saya sudah menelusuri di jaringan sosial dan media-media tentang isi dan pernyataan aktivis NFRPB tersebut, ternyata tidak ada satupun sosial maupun media yang memunculkan berita tersebut.
Dia hanya ingin mempengaruhi rakyat saja dengan kabar-kabar yang terombang ambing seperti itu. Seluruh masyarakat Papua kini telah maju berkembang pesat, bukan boneka yang selalu dipermainkan oleh para aktivis NFRPB itu. Pernyataan seperti itu adalah dibuat-buat oleh Frans Kapisa (MENKOPOLKAM NRFPB) tanpa ada persetujuan dari pihak manapun.

Apabila dia mengambil keputusan sendiri seperti itu, maka tersimpulkan bahwa dia ingin menjadi seorang yang dibilang pemimpin dengan menyesatkan pikiran rakyat.
Masyarakat papua hanya percaya dengan pemimpinnya yaitu Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan seorang yang membuat keputusan sendiri tanpa ada pihak-pihak yang mendukung.
Masyarakat papua sudah kebal dan tidak akan terprovokasi dengan adanya isu-isu yang tidak jelas seperti itu. Masyarakat Papua akan selalu berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945 dan percaya sepenuh hati bahwa bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan negara sendiri.

 
Design by Muhai Tabuni | Bloggerized by Muhay Tabuni - Pemuda Papua Blogger Themes | Muda Merdeka Papua Indonesia management