widget

Jumat, 25 Oktober 2013

Eksotisme Pemandangan "The Lost World" Ada Di Papua

Eksotisme Pemandangan "The Lost World" Ada Di Papua



Para ilmuwan mengklaim bahwa mereka telah menemukan 'dunia yang hilang' dimana beberapa spesies hewan yang belum ditemukan terdapat di sana termasuk diantaranya adalah katak dan tikus raksasa dengan ukuran tubuh sebesar kucing. Ekspedisi yang dilakukan oleh BBC menjelajahi kawah raksasa sebuah gunung berapi yang terletak di dataran tinggi Papua untuk membuat film dokumenter Lost Land of the Volcano.



Didampingi oleh ahli biologi pertama yang pernah menginjakkan kaki di kawah, tim peneliti itu memfilmkan labah-labah aneh, ulat raksasa dan kanguru yang hidup di pohon. Sementara itu tikus yang berada di pulau itu panjangnya mencapai 81cm dari hidung ke ekor dan beratnya mencapai 1,3kg.




Kawah Gunung Bosawi dengan kedalaman beberapa meter hampir-hampir tak pernah tersentuh oleh tangan manusia semenjak meletus 200,000 tahun silam. Tim peneliti yang termasuk diantaranya berasal dari London Zoo dan Oxford University diperkirakan adalah orang-orang pertama yang memasuki kawah tersebut.




Pemimpin ekspedisi, Dr George McGavin mengatakan, "Ini luar biasa mengejutkan. Sudah waktunya kita menurunkan tangan dan memutuskan habitat ini layak diselamatkan." Di kawah tersebut mereka menemukan 40 spesies baru diantaranya 16 spesies katak, satu spesies tokek, 3 spesies ikan, 20 spesies serangga dan labah-labah dan satu spesies kelelawar.


#Exotic_of_Papua

Dubes Norwegia: Hutan Papua Penting bagi Dunia

Dubes Norwegia mengimbau warga Papua menjaga kelesetarian Cagar Alam Cycloop.
Foto Pemandangan Pegunungan Cycloop Sentani Papua Indonesia

Keindahan Alam Cartenz Pyramid Papua di Indonesia

Eksotika alam papua memang tidak ada habis-habisnya. Masih banyak misteri keindahan yang ada di pulau paling ujung timur Indonesia ini. Sebut saja kepulauan Raja Ampat yang tak kalah hebatnya, dengan berbagai peninggalan sejarah dan keindahan ekosistemnya. Dari laut-laut yang ada di kepualaun Raja Ampat, menyimpan banyak keindahan untuk diteliti dan dijelajahi.Belum lagi keunikan tradisi masyrakat asli papua yang sudah kesohor higga mancanegara. Spesies burung Cendrawasih yang berbulu indah, hanya ada di Irian jaya atau papua. Buah Merah, yang berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penytakit, juga terdapat disana. Keindahan Nusantara memang tiada duanya.


Indonesia patut berbangga dengan keunikan dan kekayaan alam serta tradisi masayarakatnya. Salah satunya adalah Carstenz Pyramid atau yang biasa disebut dengan puncak jaya, juga berada di Papua. Jika anda adalah seorang petualang sejati pasti tidak akan melewatkan berpetualang di puncak jaya ini, Puncak Carstensz ini merupakan puncak tertinggi di Australia dan Oceania. Mengapa tidak di Asia? Karena puncak tertinggi di Asia sudah dipegang oleh Gunung Himalaya yang ada di perbatasan India dan Cina, Puncak Carstensz Pyramid memiliki altitude 4884 m diatas permukaan laut (16023 ft). Lokasi koordinatnya berada pada S 04°04.733 dan E 137°09.572. Carstensz Pyramid, atau disebut dengan Puncak Jaya oleh beberapa orang, dan Puncak Jaya Kesuma atau disebut hanya Jaya Kesuma oleh sebagian yang lain, terletak di sebelah barat central highland yang disebut dengan Jayawijaya dan pegunungan Sudirman. Dan satu-satunya gletser tropika di Indonesia, yang kemungkinan besar segera akan lenyap akibat pemanasan global.

Nama Cartensz diambil dari penemunya yaitu seorang pelaut asal Belanda, John Carstensz, yang menyaksikan adanya puncakIndonesia gunung yang tertutup oleh es di negara ekuator. Pada 1623 Cartenz mengabarkan adanya gunung salju di khatulistiwa namun tidak ada yang percaya dengan pernyataan nya tersebut. John Carstensz adalah orang eropa pertama yang menyaksikan puncak Cartensz dengan mata kepalanya sendiri.

Fakta Dibalik Tuduhan AHRC Tentang "Genosida" di Papua



Departemen Pertahanan Australia membantah klaim yang menyebut helikopter Australia digunakan oleh militer Indonesia untuk membunuh warga sipil Papua pada tahun 1970.



Dephan Australia bantah tuduhan terlibat dalam pembantaian warga sipil di Papua pada tahun 1970-an. (Credit: ABC)






Bantahan ini menanggapi laporan hasil investigasi selama setahun oleh Komisi HAM Asia (AHRC) mengenai peristiwa pembunuhan, pemerkosaan dan penyiksaan terhadap 4 ribu warga sipil Papua lebih dari 45 tahun yang lalu.

Laporan itu menuding Australia menyuplai 2 helikopter yang digunakan dalam operasi militer di Papua tersebut.

Departemen Pertahanan menyatakan arsip yang dimiliki mereka mencatat cerita yang berbeda.

Dalam pernyataannya yang diberikan kepada ABC, Departemen Pertahanan menyatakan:

"Dari tahun 1976 sampai 1981, unit pertahanan terlibat dalam Operasi Cenderawasi, untuk mensurvey dan memetakan Irian Jaya. Helikopter Iroquois, Caribou, Canberra serta Hercules C-130 Hercules Australia turut digunakan untuk melakukan operasi itu di Irian Jaya. Markas besar operasi tersebut di Bandara Udara Mokmer di Pulau Biak."

Pernyataan tersebut menyebutkan pertanyaan lanjutan terkait isu ini harus diajukan melalui permohonan atas kebebasan informasi.

Juru bicara Departemen Pertahanan Australia bidang luar negeri dan perdagangan mengatakan mereka tidak dalam posisi untuk memberikan komentar mengenai situasi di Papua pada periode 35 tahun yang lalu.

"Kebijakan pemerintah Australia saat ini terhadap Papua sudah jelas: kita mengutuk semua kejahatan terhadap warga sipil maupun kejahatan yang dilancarkan kepada personil keamanan. Situasi HAM saat ini di Propinsi Papua tidak seperti yang digambarkan didalam laporan AHRC,” demikian pernyataan itu.

Ditambahkan, "Permohonan apapun untuk mengakses catatan Departemen Pertahanan selama periode yang dimaksudkan harus ditujukan kepada Lembaga Arsip Nasional sesuai ketentuan arsip tahun 1983.”

(Sumber Redaksi Radioaustralia dan Departemen Pertahanan Australia Lembaga Arsip Nasional sesuai ketentuan arsip tahun 1983). Oleh : Carter Howard






Sumber : www.radioaustralia.net.au

 
Design by Muhai Tabuni | Bloggerized by Muhay Tabuni - Pemuda Papua Blogger Themes | Muda Merdeka Papua Indonesia management