widget

Selasa, 04 Maret 2014

Potensi Papua yang masih terpendam

Begitu luasnya Indonesia, sehingga sampai detik ini masih banyak misteri tersembunyi yang belum terkuak. sebutlah pulau Jawa yang banyak terdapat tempat – tempat bekas hunian prasejarah. Hunian tersebut kemudian diidentifikasi pernah menjadi tempat “kebudayaan” pada masa lampau. Istilah-istilah seperti kebudayaan Kali Baksoko, Pacitan, Sangiran, dan lain-lain. Lantas bagaimana dengan  Papua?

Di Papua belum banyak penemuan-penemuan arkeologi yang ditemukan. Hal tersebut karena tidak banyak penelitian yang dilakukan di Papua. Padahal, pada topografi kars berupa gua-gua batu gamping banyak terdapat situs-situs hunian manusia purba. Misalnya, Gua Pawon, Padalarang, dan Pegunungan Sewu, Pacitan. Maka Papua adalah kawasan yang paling luas di Indonesia dari segi tutupan batuan batu gamping.

Dari aspek penelitian prasejarah, sebenarnya Papua bisa menjadi daerah yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, sebab beberapa situs arkeologi telah ditemukan sampai ketinggian 4000 meter, yaitu di gua-gua gamping yang terdapat di Pegunungan Tengah Papua.

Pada tahun 1971-1973 ditemukan tulang-tulang, artefak batu, abu, dan cangkang-cangkang kerang dari Ekspedisi Australia-Indonesia untuk Gletsyer Carstenz pada ketinggian 4000 meter di sebuah tempat bernama Mapala Rockshelter. Saat ditera, artefak tersebut menghasilkan umur 5440 tahun yang lalu. Hope dan Hope (1976) berdasarkan analisis palinologi di Ijomba Bog, masih di kawasan Pegunungan Tengah, juga menyimpulkan bahwa pada 10.500 tyl, ada manusia purba di kawasan ini yang pernah membuka hutan dengan membakarnya. Pembukaan hutan yang lebih tua dengan cara membakarnya juga ditemukan di Lembah Baliem, yang sisa-sisanya menunjukkan umur 32.000 tyl.

Situs arkeologi tertua di pulau Papua (termasuk Papua New Gini) yang berumur 40.000 tahun yang lalu masih dipegang oleh sebuah gua di pantai utara Papua di Semenanjung Huon.
Pada wilayah Papua paling barat yang sering disebut sebagai Kepala Burung, penelitian terbaru Juliette Pasveer menemukan hunian manusia purba berumur Plistosen-awal Holosen pada kawasan kars batu gamping Kais di Ayamaru.

Pliosen; (Geo); adalah zaman dalam sejarah perkembangan kulit bumi, kira-kira 16 juta sampai dengan 4 juta tahun lalu;Kawasan topografi kars Ayamaru terbentuk sejak Pliosen setelah Sesar Sorong secara aktif mulai memengaruhi Cekungan Salawati pada Mio-Pliosen. Sesar besar ini telah menjungkirbalikkan Cekungan Salawati sedemikian rupa sehingga deposenter cekungan ini pindah dari sebelumnya berada di sebelah selatan bergeser ke sebelah utara sampai barat.

Akibat pembalikan ini, maka secara isostatik bagian selatan (Misool) dan bagian timur (Ayamaru) cekungan terangkat, menyingkapkan batu gamping Kais. Lalu kemudian, singkapan batu gamping Kais di Misool dan Ayamaru mengalami pelapukan dan erosi menghasilkan kawasan topografi kars seperti terlihat sekarang. Pada Plistosen atas manusia purba mulai bermigrasi ke Papua melalui dua jalan, dari sebelah barat (Halmahera) atau dari sebelah selatan.

Terletak di bagian tengah Kepala Burung, Plato Ayamaru membentuk topografi kars. Sampai saat ini ketinggiannya terangkat sekitar 350 meter di atas muka laut. Terdapat tiga buah danau dangkal yang saling berhubungan. Satu danau terbentuk pada mid-Holosen, dua yang lain lebih tua lagi. Saat ini, penyebaran penduduk Ayamaru terkonsentrasi di sekitar ketiga danau ini.

Situs arkeologi di Plato Ayamaru ditemukan di dua gua yang berkembang tak jauh dari ketiga danau itu. Kedua gua itu adalah Gua Kria dan Gua Toe yang terpisah sejauh 12 km.
Gua Kria mempunyai sedimen setebal dua meter dengan stratigrafi yang tak terganggu deformasi. Pasveer (2004) membagi sedimen ini menjadi lima satuan hunian (occupation unit). Setiap satuan sedimen mengandung artefak-artefak berupa perkakas terbuat dari tulang dan batu, sisa-sisa hewan (terutama walabi hutan, di samping cangkang-cangkang moluska). Lapisan-lapisan itu dibedakan berdasarkan kuantitas artefak yang ditemukan.Moluska: (Zoologi); hewan berbadan lunak, sering bercangkang keras, (ct: siput, bekicot, ikan gurita)
Lapisan-lapisan dari terbawah sampai teratas berumur sekitar 8000-1840 tahun yang lalu. Di lapisan teratas sedikit ditemukan artefak dan sisa hewan, tetapi ditemukan bekas-bekas manusia yang dikubur. Tidak ada tanda-tanda bahwa penduduk Ayamaru masih menggunakan gua tersebut sebagai kuburan.

Gua Toe berisi sedimen setebal 140 cm. Sedimen tersebut berisi dua lapisan. Stratigrafi sedimen agak kompleks karena lantai gua miring dan terdapat bekas nendatan (slump) atau runtuhan. Satuan sedimen bawah berumur paling tua 26.000 tahun yang lalu (Plistosen) mengandung perkakas batu dan sisa hewan yang lebih memfosil dibandingkan satuan sedimen atas. Satuan sedimen atas yang umurnya paling muda sampai 3000 tahun yang lalu, mengandung lebih banyak perkakas batu dan sisa-sisa hewan. Hewan Plistosen penghuni Gua Toe mestinya sejenis hewan yang saat ini hidup di ketinggian 1000 meter.

Pleistosen: adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu.Unit berumur Plistosen di Gua Toe ternyata menceritakan beberapa kisah menarik tentang perubahan iklim setelah the Last Glacial Maximum. Periode Last Glacial Maximum ini terjadi sekitar 26.000 tahun yang lalu. Selama periode ini temperatur menurun drastis. Hewan-hewan yang biasa hidup di ketinggian +1000 m melakukan penyesuaian dengan cara menuruni lereng mencari tempat yang relatif lebih hangat. Mereka turun sampai wilayah Ayamaru (+350 m). Zona-zona vegetasi yang biasa ditemukan di kawasan lereng-puncak pun turun sampai kaki pegunungan. Temperatur menghangat kembali sekitar 12.000-10.000 tahun yang lalu dan telah menyerupai kondisi sekarang.

Dari banyak gua yang terbentuk pada plato kars gamping, hingga saat ini hanya dua gua di Plato Ayamaru yang baru diselidiki prasejarahnya. Belum ada penelitian khusus mengenai kars topografi batu gamping Kais di Pulau Misool dan Semenanjung Onin yang pada Mio-Pliosen kedua wilayah ini sama-sama terangkat sebagai kompensasi isostatik saat bagian utara Cekungan Salawati makin tenggelam.

Banyak hal-hal di masa lalu yang bersembunyi di daratan Papua. Namun, sayangnya Penelitan Prasejarah di Papua dan wilayah-wilayah di Indonesia lainnya belum banyak “tersentuh” oleh para peneliti.

Sumber: www.wacananusantara.org

Selasa, 11 Februari 2014

Papuaku Papuamu juga

Papua, alam dengan sejuta pesona keindahan dan potensi alamnya yang menjadi ikon kebanggaan Indonesia, Merupakan kewajiban Pemerintah untuk senantiasa memperhatikan wilayah teritorialnya untuk memberikan kemajuan dan pengembangan potensi wilayah dari Sabang sampai Merauke.

Seperti yang kita ketahui, berbagai upaya pemerintah untuk memberikan kesejahteraan dan perhatian bagi seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan yang tertera di salah satu butir Pancasila dan isi pembukaan UUD 1945 dan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia, namun demikian dibalik hak pasti ada kewajiban. Papua adalah wilayah yang mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daripada wilayah-wilayah yang lain, terbukti dengan adanya Otonomi Khusus dan sekarang menjadi Otsus Plus hingga program-program lainnya yang bersifat membangun, mendidik dan memajukan Papua. Hal ini merupakan salah satu bentuk rasa cinta kepada Negeri Indonesia, sudah semetinya pemerintah melakukan hal ini, karena orang tua yang baik tak mungkin menelantarkan anaknya.

Bukan hanya itu, dari segi pembangunan SDM pun mulai di galakkan seiring pesatnya kemajuan pembangunan fisikal di Papua apalagi menyambut pelaksanaan program P4B yang akan menghubungkan jalan-jalan keras yang menembus hutan dan mencakup hampir seluruh wilayah Papua yang sedang berjalan dan akan merubah wajah Papua menjadi daerah dengan perkembangan wilayah yang pesat.

Namun bukanlah perkara mudah bagi pemerintah untuk menjamin semua bantuan pusat akan sampai ke tangan yang tepat, ada banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain kualitas pejabat-pejabat daerah yang diberikan mandat dan kepercayaan untuk mensejahterakan rakyat dan wilayahnya, ini masih belum bisa di jamin, ambillah contoh kasus ketua komisi DPRD Papua Barat Yosef Yohan AuriWakil Ketua I Demianus Idji, Wakil Ketua II Robert M. Nauw, dan mantan Sekda Papua Barat, Ir. Marthen l Rumadas. Mereka divonis atas kasus korupsi APBD 2011 sebesar Rp 22 miliar. Sumber: detik.com dan masih banyak kasus-kasus yang lain yang hanya menimbulkan dampak negatif bagi pembangunan di Papua.

Bukan hanya itu saja, tapi masih banyak kasus-kasus yang lain yang merampas hak-hak rakyat Papua yang seharusnya mendapatkan kebijakan dan penghargaan dari pemerintah. inilah tugas bersama kita untuk membersihkan Papua dari tangan-tangan gatal seperti diatas. semoga Penerus Bangsa dan Pemuda Papua kelak akan menjadi pelopor dan pengsntsr keberhasilan pembangunan di Papua sehngga mampu bersaing bahkan melebihi potensi wilayah lain di Indonesia.

Muhai_Tabuni

Senin, 10 Februari 2014

Lindungi Papua

PEMERINTAH Australia terus ngotot membebaskan satu warga negaranya yang telah divonis 20 tahun penjara oleh lembaga penegakan hukum Indonesia  karena terbukti masuk Bali  membawa 4,2 Kg ganja.
Ditegaskan bahwa Sehapelle Leigh Corby  hanya korban. Barang haram itu bukan miliknya, tapi dimasukkan pihak lain ke dalam tas yang bersangkutan sebelum diperiksa petugas bandara di Pulau Dewata.
Sampai hari ini upaya mereka melindungi  anak bangsanya  itu, tetap membara. Sikap pemerintah Indonesia justru meluntur. Bahkan ada skenario membebaskan berdalih demi kemanusiaan.
Bagi kita kesalahan Corby sudah final. Tidak bisa dialibikan sebagai korban sindikat.  Justru yang membuat takjub tertuju pada upaya keras  pemerintah negara tetangga itu. Tak mundur sejengkal pun untuk melindungi segenap rakyatnya.
Bangsa Indonesia menanti-nantikan penguasa yang sah di negeri ini memiliki kemampuan atau keberanian setara Australia. Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan, pemerintah berkewajiban melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Kasus hukuman pancung di Arab Saudi atau hukuman mati di Malaysia dijatuhkan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air,  tak berdaya dicegah pemerintah Indonesia. Lebih menyesakkan rongga dada ketika menyaksikan diplomat kita di negara yang bersangkutan berbicara bagai tak punya beban.
Bahkan cenderung menyalahkan anak bangsa  sendiri sambil memuji penegakan hukum pada negara tempatnya menjalankan tugas.  Pejabat penyelenggara negara macam apa  mereka itu? Hanya tahu hak tanpa mau betanggung-jawab sesuai amanat undang-undang.
Sebelum mengakhiri masa pemerintahan periode kedua, kita mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama perangkat diplomatnya  mampu melindungi WNI asal Papua yang baru-baru ini jadi korban arogansi tentara Negara Papua Nugini.
Kapal saudara kita itu ditembaki mereka hingga tenggelam. Sejumlah penumpang terjungkal ke laut dan sampai kemarin belum diketahui nasibnya.
Kewibawaan Indonesia harus ditegakkan dengan cara mengedepankan diplomasi, tapa mengharamkan kemungkinan terburuk untuk mengerahkan kekuatan militer ke negara  tetangga sebelah timur itu. Menteri Luar Negeri  Marty M. Natalegawa belum merespons.
Baginya ini adalah tugas yang harus dijalani dengan sepenuh hati seperti  Menteri Luar Negeri Australia yang terbukti mampu membuat pemerintah kita kedodoran dalam perkara Corby.

jangan biarkan OPM meradang

Yapen
Puncak Jaya-  jumat tgl 7 feb 2014 pkl 07.00 WIT, masyarakat di kamp. Kulirik distrik. Muara kab. Puncak jaya di gegerkan oleh adanya pembakaran terhadap honai milik masyarakat an. OLARINGEN yg dilakukan oleh kelompok separatis OPM daerah yambi. seperti yang sempat dilansir oleh beberapa media berita ternama:

www.tribunnews.com

www.kodam17cenderawasih.mil.id

news.liputan6.com


Dari salah satu warga yang tak mau disebitkan namanya mengatakan bahwa dia sempat melihat salah satu pelaku pembakaran yang ia kenal atas nama LERRY MAYU TELENGGEN.

Belum sempat berita ini menyurut kini kelompok separatis ini kembali berulah dengan menghembuskan isu miring kepada warga kampung Sasawa  kabeten Yapen sehingga  menyebabkan beberapa warga mengungsi. Hal ini membuat kegiatan di daerah tersebut terganggu dan mengusik ketenangan masyarakat setempat.

Kepala Suku dan tokoh agama setempat telah menghimbau masyarakat untuk kembali ke rumah masing-masing dan menegaskan kembali bahwa bahwa TNI & Polri utk melindungi masyarakat, bukan memusuhi masyarakat, karena ini hanya akal-akalan serta pembohongan publik oleh kelompok OPM untuk mengaaukan situasi.

Bupati Yapen, tokoh masyarakat serta tokoh agama melaksanakan rekondisi wilayah tersebut agar aktivitas warga kembali normal. seperti yang telah dilansir oleh:

www.kodam17cenderawasih.mil.id dan www.papuapos.com

"Memang situasi seperti ini sering dimanfaatkan oleh kelompok separatis. Hal ini sangat merugikan dan sudah barang tentu meresahkan warga setempat. Namun kebanyakan warga sudah tau akan kebohongan-kebohongan yang sering dilontarkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab seperti mereka. Jadi hanya sebagian warga saja yang se,pat mengungsi, namun sekarang telah kembali ke rumah masing-masing. Kami berharap aparat dan pemerintah segera menyelesaikan masalah ini supaya tidak berlarut-larut." tungkas salah satu tokoh masyarakat kampung Sasawa.

 
Design by Muhai Tabuni | Bloggerized by Muhay Tabuni - Pemuda Papua Blogger Themes | Muda Merdeka Papua Indonesia management