Satukan Indonesia dari sini
Dedikasi lagu hasil karya pemuda Papua yang menggambarkan kekayaan alam dan kekuatan persatuan Nusantara meski beragam budaya. "Satukan Indonesia dalam Cinta" itulah pesan yang begitu kuat yang disampaikan oleh lagu milik Pay - Papua Dalam Cinta (feat. Soa Soa)
Mari Cerdaskan generasi muda Papua Indonesia
Indonesia merupakan satu kesatuan dari berbagai rangkaian pulau serta ragam budaya yang membuatnya sangat istimewa, tidak ada diskriminasi atau pembedaan untuk seluruh rakyatnya terutama dalam bidang pendidikan yang menjadi salah satu aspek utama untuk mencerdaskan kahidupan bangsa
Masyarakat Papua Kembali dibodohi KNPB
Masyarakat Papua telah kesekiankalinya diberikan iming-iming oleh segelintir orang seperti Benny Wenda di luar negeri atau Komite Nasional Papua Barat, biasa disebut KNPB yang selalu mengatakan bahwa Papua akan merdeka dalam waktu dekat, namun hingga saat ini jauh dari kenyataan
Indonesia ini Indonesia milik kita
Siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan kita sendiri.. siapa lagi yang rela untuk memberikan semuanya untuk negeri ini jika bukan seorang pahlawan sejati. dan kitalah pahlawan-pahlawan itu yang akan senantiasa menjaga kedaulatan tanah ini
Muda Merdeka Papua Indonesia
Kobarkan semangatmu.. Bulatkan tekadmu.. tunjukkan kreasimu.. engkaulah 'Pemuda' harapan Bangsa, engkaulah bara api yang siap membakar dan membumi hanguskan mereka para pengusik Nusantara raya.. Engkaulah Cakar yang siap menerkam.. mencengkram.. dan Melumatkan para pembelot di halaman kita.. di Papua Indonesia.
Kamis, 20 Maret 2014
Papua Dalam Cinta Mp3
Papua : Satukan Indonesia dari sini
Makin Bangga dengan IndONEsia
Selasa, 18 Maret 2014
Benarkah di Indonesia Ada Genosida di Papua?
![]() |
| ilustrasi |
Pidato Carcasses di forum PBB itu mestinya bisa membuka mata kita melihat secara obyektif sekaligus mampu membaca kepentingan terselubung di dalamnya. Karena apa yang disuarakan PM Vanuatu itu sekaligus melakukan amplifikasi terhadap internasionalisasi isu Papua.
Jauh sebelum Carcasses berdiri di mimbar sidang tahunan Dewan HAM PBB, isu pelanggaran HAM berat di Papua sudah menjadi tema klasik para pegiat internasionalisasi isu papua. Bahkan lebih dari itu, mereka bilang ‘telah terjadi genosida’ di Papua, atau pemusnahan etnis secara sistematis oleh penguasa. Mungkin sebagian dari kita akan bergumam: wah, kejam benar pemerintah Indonesia.
Persoalannya, pemusnahan etnis itu faktanya mana? Kalau hanya satu dua orang yang terbunuh, itu bukan genosida, tetapi suatu insiden karena berbagai alasan. Alasan utamanya karena masih ada segelintir orang Papua yang meyakini bahwa daerahnya telah dimerdekakan oleh Belanda tahun 1961. Dan bahwa plebisit (PEPERA 1969) itu tidak sah karena menggunakan sistem perwakilan, sehingga Papua bukannya berintegrasi tetapi dianeksasi, dan seterusnya. Para akademisi yang paham hukum tata negara dan beberapa tokoh gereja pun ikut-ikutan mengipas dengan argumen-argumen konyol seperti, menuntut merdeka itu hak, bukan makar, dan bahwa referendum bisa diulang, menghukum pelaku kriminal melanggar HAM dsb.
Suasana seperti ini memang sengaja dipelihara. Dan isu genosida itu memang sengaja terus ‘dijaga’ oleh kelompok pendukung Papua merdeka untuk menyudutkan Pemerintah Indonesia di mata dunia internasional.
Genosida multi-versi
Mari kita simak pernyataan Forkorus Yaboisembut (Ketua Dewan Adat Papua) yang saat ini sedang menjalani hukuman di Penjara Abepura Papua, akibat tindakan makar yang dilakukannya tiga tahun silam, yaitu mendeklarasikan berdirinya ‘negara papua barat’ dalam forum yang ia sebut kongres rakyat papua di lapangan zakeus, Abepura, Papua.
“Secara definisi mungkin Orang Asli Papua (OAP) belum bisa dikatakan mengalami genodisida, tetapi sesunguhnya OAP sedang menuju kearah sana” kata Forkorus awal Maret dua tahun lalu, sebagaimana dilansir tabloidjubi.com .
Dalam logika Forkorus, pertumbuhan populasi penduduk OAP sama sekali tidak mengalami perubahan, jika dibandingkan Negara Papua New Guinea. Tahun 1969 ketika bangsa Papua diintegrasikan ke dalam Indonesia, jumlah populasi OAP sekitar 800 ratus sekian ribu jiwa. Sedangkan PNG berkisar 9 ratus ribu jiwa. Dia juga mengaku, saat ini pertumbuhan penduduk asli PNG sudah berkisar 7,7 juta jiwa, sementara jumlah OAP masih berada pada angka 1, 8 juta jiwa.
Menurut Forkorus, mestinya populasi OAP saat ini sekitar 6 juta jiwa jika tidak terjadi proses pemusnahan etnis atau genosida (Jubi, 15 Oktober 2012).
Jika kita tidak membaca secara kritis pernyataan Forkorus di atas, kita akan spontan mengamini tudingan Forkorus, bahwa benar telah terjadi genosida.
Coba simak juga tulisan Selphius Bobii yangsama-sama satu penjara dengan forkorus saat ini. Dalam artikel berjudul ”Etnis Bangsa Papua Sedang Musnah” http://keadilandipapua.blogspot.com/2013/03/etnis-bangsa-papua-sedang-musnah_25.html Bobii menulis :
Dari data-data di atas, tulis Bobii, saya menyimpulkan bahwa di Tanah Papua sedang terjadi proses pemusnahan etnis Papua secara merangkak perlahan-perlahan tetapi pasti (slow motion genocide).
Senada dengan Forkorus dan Bobii, tahun 2010 seorang Akademisi asal Australia, Jim Elmslie mengeluarkan data yang katanya hasil penelitian tahun 2010. Dalam laporan berjudul “West Papuan Demographic Transition and the 2010 Indonesian Census: “Slow Motion Genocide” or not?” yang diterbitkan oleh University of Sydney, Centre for Peace and Conflict Studies pada tahun 2006 memperkirakan jumlah penduduk asli Papua di Propinsi Papua dan Papua Barat hingga akhir tahun 2010 akan mencapai 3,612,856.
Dalam laporan itu dirincikan bahwa jumlah penduduk asli Papua pada tahun 1971 sebanyak 887,000 dan tahun 2000 meningkat menjadi 1,505,405. Artinya pertumbuhan penduduk pertahunnya 1,84 persen. Sementara itu jumlah penduduk non Papua tahun 1971 sebanyak 36,000 dan tahun 2000 meningkat menjadi 708,425. Jadi presentase pertumbuhan penduduk non asli Papua pertahunnya 10.82 persen.
Dengan asumsi pertambuhan penduduk per tahun 1,84%, ia memprediksi pada akhir tahun 2010 jumlah penduduk asli Papua mencapai 1,760,557. http://gereja.tumblr.com/post/24663879014/mohon-doa-penduduk-asli-tanah-papua-terancam-punah
Bandingkan dengan data hasil Sensus BPS
Angka-angka yang ditampilkan oleh Emslie di atas, memang mendekati angka statistik BPS. Jumlah penduduk Papua tahun 1971 versi BPS adalah 923.440 jiwa. Hasil sensus penduduk tahun 2000 tercatat 2.220.934 jiwa. Sepuluh tahun kemudian, sensus 2010 berjumlah 2.833.381 (di Papua) dan di Papua Barat 760.422 jiwa. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12
Meraukepos.com menyebutkan, dari 2.833.381 penduduk Provinsi Papua tersebut, terdapat 674.063 warga non papua (pendatang), sedangkan warga asli Papua sebanyak 2.159.318 jiwa.http://www.meraukepos.com/2011/03/distribusi-penduduk-papua-belum-merata.html
Berarti terjadi pertambahan penduduk asli Papua dalam 40 tahun (thn 1971 – s.d 2010) sekitar 1,2 juta jiwa (lebih dari dua kali lipat).
Bandingkan dengan provinsi dan negara tetangga
Hasil penelusuran saya di beberapa situs resmi, jumlah penduduk PNG tahun 2012/2013 adalah 6.310.129. Tahun 2000 menurut sumber yang sama, jumlah penduduk PNG adalah 5.190.783 jiwa. Berarti dalam 12 tahun itu pertambahan penduduknya sekitar 1,2 juta jiwa. (sumber : http://countrymeters.info/en/Papua_New_Guinea/ dan http://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Nugini#Demografi dan http://www.statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=area&info1=6 )
Pertanyaan kritis yang bisa kita layangkan terhadap pernyataan Forkorus dan Selphius Bobii adalah, benarkan penduduk PNG tahun 1971 itu berjumlah 900 ribu jiwa? Dari mana angka itu? Mana ada sebuah wilayah yang penduduknya tidak sampai satu juta jiwa bisa menghasilkan pertambahan penduduk rata-rata satu juta jiwa per 10 tahun?
Coba bandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara. Sensus penduduk tahun 1971 berjumlah 6.621.831 jiwa. Sensus penduduk thn 2010 berjumlah 12.982.204. Demikian juga di Nusa Tenggara Barat (NTB), tahun 1971 berjumlah 2.203.465 menjadi 4.500.212 pada tahun 2010. Artinya setelah 40 tahun, jumlah penduduknya baru bertambah dua kali lipat. Tetapi untuk PNG, dalam 40 tahun bertambah 6 kali lipat? (sumber: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12)
Bandingkan juga dengan Vanuatu, tahun 2004 tercatat 202.609 jiwa dan tahun 2013 menjadi 252.605 jiwa. Berarti dalam 9 tahun penduduk Vanuatu bertambah sekitar 50 ribu jiwa. http://countrymeters.info/en/Vanuatu/. Artinya setelah 40 tahun atau tahun 2044 penduduk Vanuatu baru bisa mencapai 500 ribu jiwa (dua kali lipat dari 2004).
Demikian juga di Negara Kaledonia Baru berdasarkan sensus penduduk tahun 2004 berjumlah 230.789 jiwa. Tahun 2013 berjumlah 263.047 jiwa http://countrymeters.info/en/New_Caledonia/ Berarti dalam 9 tahun pertambahan penduduknya sekitar 33 ribu jiwa.
Jumlah penduduk Fiji menurut sensus tahun 2007 tercatat 837.271 jiwa (http://www.statsfiji.gov.fj/) dan Tahun 2012/2013 berjumlah 890.057 jiwa (http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=area&info1=6). Berarti selama 5 tahun penduduk Fiji hanya bertambah sekitar 50-an ribu jiwa atau 100 ribu jiwa dalam 10 tahun. Jumlah penduduk Fiji saat ini, nyaris sama dengan jumlah penduduk PNG 40 tahun lalu (versi Forkorus dan Bobii). Dalam 40 tahun ke depan (dengan ratio pertambahan 100 ribu sampai 150 ribu penduduk per 10 tahun) penduduk Fiji paling banyak mencapai 2,5 juta jiwa. Padahal di negara ini tidak ada genosida. Demikianpun di Vanuatu, PNG dan Sumut serta NTB.
Saya sengaja memilih beberapa negara saja yang kebetulan negara rumpun Melanesia (anggota MSG) yang secara geografis berada di Pasifik Selatan atau tak jauh dari Papua. Jika tahun 1971 penduduk asli Papua berjumlah 887.000 (versi Forkorus dan Bobii) dan sensus 2010 jumlah penduduk asli Papua 2.159.318 jiwa, berarti dalam tempo 40 tahun jumlah OAP telah bertambah hampir 2,5 kali lipat. Ratio itu bahkan melebihi pertambahan penduduk di Fiji, Vanuatu dan PNG.
Genosida?
Menilik angka-angka yang ditampilkan di atas, tidak tampak adanya keanehan dalam hal pertumbuhan penduduk, baik di Papua maupun di negara tetangganya Vanuatu, Fiji, Kaledonia Baru, bahkan juga di dalam negeri sendiri seperti di NTB dan Sumut. Semuanya tampak wajar dan alamiah. Menjadi persoalan besar ketika obyek yang dijadikan perbandingan (penduduk PNG tahun 1971) dipatok hanya 900 ribu jiwa. Sekali lagi, dari mana angka itu?
Apakah di masa penjajahan, PNG sudah melakukan sensus? Karena PNG baru memiliki pemerintahan sendiri pada 1 Desember 1973 dan baru merdeka 16 September 1975 atas ‘restu’ Ratu Inggris. Apakah ada negara penjajah kala itu yang berbaik hati melakukan sensun penduduk untuk mengetahui jumlah warga pribumi?
Asumsi saya, dengan menggunakan ratio: ‘setiap 40 tahun terjadi pertambahan penduduk dua kali lipat’, maka penduduk PNG tahun 1971 = jumlah penduduk saat ini dibagi dua. Yaitu 6.310.129 : 2. Maka Jumlah Penduduk PNG tahun 1971 tidak kurang dari 3 Juta jiwa, bukan 900 ribu jiwa seperti klaim Forkorus dan Selphius Bobii.
Semoga kita tidak tertipu oleh kampanye-kampanye murahan para pendukung Papua merdeka. [***]
sumber : http://zonadamai.com/2014/03/17/benarkah-di-indonesia-ada-genosida/
Selasa, 04 Maret 2014
Potensi Papua yang masih terpendam
Di Papua belum banyak penemuan-penemuan arkeologi yang ditemukan. Hal tersebut karena tidak banyak penelitian yang dilakukan di Papua. Padahal, pada topografi kars berupa gua-gua batu gamping banyak terdapat situs-situs hunian manusia purba. Misalnya, Gua Pawon, Padalarang, dan Pegunungan Sewu, Pacitan. Maka Papua adalah kawasan yang paling luas di Indonesia dari segi tutupan batuan batu gamping.
Dari aspek penelitian prasejarah, sebenarnya Papua bisa menjadi daerah yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, sebab beberapa situs arkeologi telah ditemukan sampai ketinggian 4000 meter, yaitu di gua-gua gamping yang terdapat di Pegunungan Tengah Papua.
Pada tahun 1971-1973 ditemukan tulang-tulang, artefak batu, abu, dan cangkang-cangkang kerang dari Ekspedisi Australia-Indonesia untuk Gletsyer Carstenz pada ketinggian 4000 meter di sebuah tempat bernama Mapala Rockshelter. Saat ditera, artefak tersebut menghasilkan umur 5440 tahun yang lalu. Hope dan Hope (1976) berdasarkan analisis palinologi di Ijomba Bog, masih di kawasan Pegunungan Tengah, juga menyimpulkan bahwa pada 10.500 tyl, ada manusia purba di kawasan ini yang pernah membuka hutan dengan membakarnya. Pembukaan hutan yang lebih tua dengan cara membakarnya juga ditemukan di Lembah Baliem, yang sisa-sisanya menunjukkan umur 32.000 tyl.
Situs arkeologi tertua di pulau Papua (termasuk Papua New Gini) yang berumur 40.000 tahun yang lalu masih dipegang oleh sebuah gua di pantai utara Papua di Semenanjung Huon.
Pada wilayah Papua paling barat yang sering disebut sebagai Kepala Burung, penelitian terbaru Juliette Pasveer menemukan hunian manusia purba berumur Plistosen-awal Holosen pada kawasan kars batu gamping Kais di Ayamaru.
Pliosen; (Geo); adalah zaman dalam sejarah perkembangan kulit bumi, kira-kira 16 juta sampai dengan 4 juta tahun lalu;Kawasan topografi kars Ayamaru terbentuk sejak Pliosen setelah Sesar Sorong secara aktif mulai memengaruhi Cekungan Salawati pada Mio-Pliosen. Sesar besar ini telah menjungkirbalikkan Cekungan Salawati sedemikian rupa sehingga deposenter cekungan ini pindah dari sebelumnya berada di sebelah selatan bergeser ke sebelah utara sampai barat.
Akibat pembalikan ini, maka secara isostatik bagian selatan (Misool) dan bagian timur (Ayamaru) cekungan terangkat, menyingkapkan batu gamping Kais. Lalu kemudian, singkapan batu gamping Kais di Misool dan Ayamaru mengalami pelapukan dan erosi menghasilkan kawasan topografi kars seperti terlihat sekarang. Pada Plistosen atas manusia purba mulai bermigrasi ke Papua melalui dua jalan, dari sebelah barat (Halmahera) atau dari sebelah selatan.
Terletak di bagian tengah Kepala Burung, Plato Ayamaru membentuk topografi kars. Sampai saat ini ketinggiannya terangkat sekitar 350 meter di atas muka laut. Terdapat tiga buah danau dangkal yang saling berhubungan. Satu danau terbentuk pada mid-Holosen, dua yang lain lebih tua lagi. Saat ini, penyebaran penduduk Ayamaru terkonsentrasi di sekitar ketiga danau ini.
Situs arkeologi di Plato Ayamaru ditemukan di dua gua yang berkembang tak jauh dari ketiga danau itu. Kedua gua itu adalah Gua Kria dan Gua Toe yang terpisah sejauh 12 km.
Gua Kria mempunyai sedimen setebal dua meter dengan stratigrafi yang tak terganggu deformasi. Pasveer (2004) membagi sedimen ini menjadi lima satuan hunian (occupation unit). Setiap satuan sedimen mengandung artefak-artefak berupa perkakas terbuat dari tulang dan batu, sisa-sisa hewan (terutama walabi hutan, di samping cangkang-cangkang moluska). Lapisan-lapisan itu dibedakan berdasarkan kuantitas artefak yang ditemukan.Moluska: (Zoologi); hewan berbadan lunak, sering bercangkang keras, (ct: siput, bekicot, ikan gurita)
Lapisan-lapisan dari terbawah sampai teratas berumur sekitar 8000-1840 tahun yang lalu. Di lapisan teratas sedikit ditemukan artefak dan sisa hewan, tetapi ditemukan bekas-bekas manusia yang dikubur. Tidak ada tanda-tanda bahwa penduduk Ayamaru masih menggunakan gua tersebut sebagai kuburan.
Gua Toe berisi sedimen setebal 140 cm. Sedimen tersebut berisi dua lapisan. Stratigrafi sedimen agak kompleks karena lantai gua miring dan terdapat bekas nendatan (slump) atau runtuhan. Satuan sedimen bawah berumur paling tua 26.000 tahun yang lalu (Plistosen) mengandung perkakas batu dan sisa hewan yang lebih memfosil dibandingkan satuan sedimen atas. Satuan sedimen atas yang umurnya paling muda sampai 3000 tahun yang lalu, mengandung lebih banyak perkakas batu dan sisa-sisa hewan. Hewan Plistosen penghuni Gua Toe mestinya sejenis hewan yang saat ini hidup di ketinggian 1000 meter.
Pleistosen: adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu.Unit berumur Plistosen di Gua Toe ternyata menceritakan beberapa kisah menarik tentang perubahan iklim setelah the Last Glacial Maximum. Periode Last Glacial Maximum ini terjadi sekitar 26.000 tahun yang lalu. Selama periode ini temperatur menurun drastis. Hewan-hewan yang biasa hidup di ketinggian +1000 m melakukan penyesuaian dengan cara menuruni lereng mencari tempat yang relatif lebih hangat. Mereka turun sampai wilayah Ayamaru (+350 m). Zona-zona vegetasi yang biasa ditemukan di kawasan lereng-puncak pun turun sampai kaki pegunungan. Temperatur menghangat kembali sekitar 12.000-10.000 tahun yang lalu dan telah menyerupai kondisi sekarang.
Dari banyak gua yang terbentuk pada plato kars gamping, hingga saat ini hanya dua gua di Plato Ayamaru yang baru diselidiki prasejarahnya. Belum ada penelitian khusus mengenai kars topografi batu gamping Kais di Pulau Misool dan Semenanjung Onin yang pada Mio-Pliosen kedua wilayah ini sama-sama terangkat sebagai kompensasi isostatik saat bagian utara Cekungan Salawati makin tenggelam.
Banyak hal-hal di masa lalu yang bersembunyi di daratan Papua. Namun, sayangnya Penelitan Prasejarah di Papua dan wilayah-wilayah di Indonesia lainnya belum banyak “tersentuh” oleh para peneliti.
Sumber: www.wacananusantara.org


Kamis, Maret 20, 2014
Unknown

