widget

Senin, 11 November 2013

HARI DIMANA PAHLAWAN KITA BERTERIAK MENGAJAK UNTUK BANGKIT

HARI DIMANA PAHLAWAN KITA BERTERIAK MENGAJAK UNTUK BANGKIT



10 November - Hari Pahlawan. Merupakan hari yang penting dan bersejarah bagi Indonesia. Hari mengenang para Pahlawan yang mendahului kita yang mana mereka merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Semoga para generasi muda tetap mengisinya dengan belajar dengan giat dan terus berusaha meneruskan cita-cita para pahlawan kita.
Hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah yang seharusnya disebut sebagai pahlawan sekarang, bukan perang melawan penjajah lagi tetapi perang melawan kebodohan, kemiskinan dan kesengsaraan. Sehingga tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.
Mungkin, banyak yang melupakan jasa Pahlawan Nasional dari tanah Papua, untuk sedikit mengenang jasa beliau, mari kita kenalan dengan Para Pahlawan Nasional asal dari Papua diantaranya adalah :

1.Frans Kaisepo yang telah berjuang sejak masa-masa kemerdekaan RI. Tindakannya yang sangat teguh menyatakan bahwa Papua merupakan bagian dari Nusantara Indonesia, menjadikan dirinya “dipinggirkan” oleh pemerintah Belanda karena hingga setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pemerintah Belanda masih bersikukuh menjadikan Papua sebagai wilayah koloninya.
Hingga pada suatu ketika di tahun 1946, Frans Kaisiepo dengan lantang mengatakan “Irian (Papua) itu merupakan bagian dari Indonesia.”
Frans Kaisiepo lahri di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921. Pada usia 24 tahun, ia mengikuti Kursus Bestuur(Pamong Praja) di Hollandia (Jayapura) yang salah stau pengajarnya adalah Soegoro Atmoprasodjo yang merupakan mantan guru Taman Siswa (yogyakarta).
Sejak pertemuannya dengan Soegoro Atmoprasodjo, jiwa kebangsaan Frans semakin bertumbuh dan kian berjuang keras untuk menyatukan Irian (Papua) kedalam NKRI. Ketika umurnya 25 tahun, Frans menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Selain itu, pada usianya yang ke-25 tersebut, Frans menjadi anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea) yang kala itu membahas tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana pada saat itu Belanda memasukkan Papua dalam NIT.
Di hadapan konferensi, Frans Kaisiepo memperkenalkan nama “Irian” sebagai pengganti nama “Nederlands Nieuw Guinea”, yang secara historis dan politik merupakan bagian integral dari Nusantara Indonesia (Hindia-Belanda). Jelaslah pernyataan Frans serta merta ditolak oleh Belanda dan sejak saat itu pula Frans dipinggirkan oleh Belanda. Selain itu, ia juga dijauhkan dari segala agenda pembicaraan mengenai Papua yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pada 1940-an, Frans Kaisiepo pernah menjadi Kepala Distrik d Warsa, Biak Utara dan menjelang dekade 1940an, ia sempat mengusulkan diri agar Irian (Papua) masuk ke dalam wilayah Karesidenan Sulawesi Utara. Beberapa waktu setelah pengusulan itu, ia dipenjara dan diasingkan oleh Belanda. Kemudian tahun 1961, Frans mendirikan Partai Politik Irian yang bersikap lantang menuntut penyatuan segera Irian (Papua) ke dalam NKRI.

2.Silas Papare berjuang membebaskan untuk menyatukannya dengan Republik Indonesia. Berbagai usaha dilakukannya seperti, pemberontakan, mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII), serta Badan Perjuangan Irian. Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil, Irian Barat merdeka dan menyatu kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Pria kelahiran Serui, Irian Jaya, 18 Desember 1918 ini merupakan orang yang berjiwa kebangsaan Indonesia yang sangat tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan dari sekolah setingkat sekolah dasar dan dari sekolah juru rawat, Silas kemudian menjadi Pegawai Pemerintah Belanda. Namun karena jiwa ke-Indonesia-annya yang begitu tinggi, maka begitu ia mendengar bahwa Indonesia telah merdeka, ia pun langsung mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Pada bulan Desember 1945, bersama teman-temannya berusaha mempengaruhi pemuda-pemuda di Irian Barat yang tergabung dalam Batalyon Papua agar melancarkan pemberontakan. Rencana itu gagal karena telah bocor duluan. Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan di Jaya Pura. Setelah bebas, pemberontakan kedua pun direncanakan kembali. Namun lagi-lagi gagal karena keburu bocor. Ia pun kembali ditangkap dan dipindahkan ke Serui. Di Serui inilah ia kebetulan bertemu dan berkenalan dengan Dr.Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan Belanda dari Sulawesi yang kembali dikuasai Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.
Selanjutnya pada bulan Nopember 1946, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Karenanya, ia kembali ditangkap pemerintah Belanda dan memindahkannya ke Biak. Dari Biak, tanpa sepengetahuan Belanda, ia melarikan diri ke Yogyakarta. Dan pada bulan Oktober 1949, ia kemudian membentuk Badan Perjuangan Irian yang bertujuan untuk membantu pemerintah Indonesia membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda sekaligus menyatukannya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di pihak lain, Belanda tetap berupaya mempertahankan Irian Barat sebagai daerah kekuasaannya. Akhirnya pemerintah Indonesia sampai pada kesimpulan untuk merebut Irian Barat walau dengan cara kekuatan senjata sekalipun.
Silas Papare yang memang sangat menginginkan cepatnya berakhir penguasaan Belanda di tanah leluhurnya itu dengan cepat mengambil bagian dalam rencana pemerintah RI tersebut. Bahkan rupanya jauh-jauh hari, Silas malah sudah mempersiapkan diri akan perang terbuka ini dengan membentuk Kompi Irian di lingkungan Mabes Angkatan Darat.
Namun pada saat akhir-akhir hendak meletusnya perang terbuka tersebut, Belanda akhirnya bersedia berunding. Penandatangan persetujuan pun resmi di lakukan oleh keduabelah pihak pada tanggal 15 Agustus 1962. Dalam penantanganan Persetujuan New York itu, Silas Papare ikut terlibat sebagai anggota delegasi RI.
Tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia. Hal sesuai dengan isi persetujuan New York tersebut. Nama Irian Barat pun kemudian diganti menjadi Irian Jaya.
Walau masa hidup Silas Papare lebih banyak terkuras pada usaha pembebasan negerinya, namun semua jerih payahnya itu terasa terbayar sudah. Tanggal 7 Maret 1978, Silas baru kemudian meninggal dunia di tanah kelahirannya Serui.

3.Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Jayapura pada tanggal 16 Maret 1912. Sebelumnya, pria yang akrab disapa Marthen ini merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Saat itu, ia bertugas untuk menjaga para tahanan politik yang secara tidak langsung berhasil menumbuhkan jiwa nasionalismenya dalam pertempuran melawan penjajah.
Jiwa nasionalisme Marthen memang tumbuh sangat kuat, namun beberapa upaya yang direncanakan olehnya dan puluhan anak buahnya dalam menangkap aparat pemerintah Belanda berulang kali gagal. Perjuangan Marthen dalam membela tanah kelahirannya sempat gagal beberapa kali, namun hal itu tidak menyurutkan niat dan semangat juang pria lulusan Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat ini menyerah dan tunduk pada musuh begitu saja.
Pada tahun 1944, sekembalinya dari pengungsian di Australia selama tiga tahun, Marthen ditunjuk sekutu untuk melatih anggota Batalyon Papua yang nantinya akan difungsikan sebagai tentara pelawan Jepang. Setahun berikutnya, ia diangkat sebagai Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris selama dua tahun. Dalam tahun-tahun tersebut Marthen tak hanya tinggal diam, namun ia melakukan kontak terhadap mantan para pejuang Indonesia yang pernah ditahan di Digul. Dalam kontak tersebut, mereka merencanakan suatu pemberontakan untuk mengusir Belanda dari tanah Cendrawasih. Namun, usaha mereka gagal begitu Belanda mencium gelagat Marthen dan rencana mereka batal diekskusi.
Di tahun ia merangkap menjadi Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris, tepatnya pada tahun 1946, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Saat menjabat sebagai ketua, Marthen dan beberapa kepala suku yang ada di Papua menyampaikan protesnya terhadap pemerintahan Belanda yang berencana memisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia. Mengetahui pihaknya membelot, Belanda menangkap Marthen dan membuinya selama tiga tahun di hulu Digul karena pasukan Belanda merasa dikhianati oleh aksinya tersebut.
Belum berhasil merebut Irian Barat untuk disatukan kembali dengan wilayah kesatuan Indonesia, pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia. Berkat piagam tersebut, Marthen dikirim ke New York untuk melakukan perundingan dengan utusan Belanda tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Indonesia.
Akhirnya, dalam perundingan tersebut, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun.
Marthen meninggal pada usia 74 tahun tepatnya pada tanggal 17 Juli 1986. Berkat jasanya terhadap negara, Marthen mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 14 September 1993.
 



Bagaimana jadinya sebuah negara tanpa pahlawan. akankah indonesia mampu untuk merdeka tanpa adanya pahlawan?, jika sebuah negeri tak memiliki tokoh seperti pahlawan maka negeri itu adalah negeri yang miskin dari harga diri. dan bahkan tergolong negeri kelas teri.
Pahlawan telah memberikan kita inspirasi untuk tetap berjuang membela negeri dan tanah air. tanggal 10 november adalah hari pahlawan, bangkitlah wahai pemuda tularkan semangat para pahlawan pada dirimu untuk tetap berjuang. sampai dengan hari ini ibu pertiwi masih menangis dan bersedih.
siapakah yang sebenarnya menjadi musuh bangsa ini? Musuh besar kita tak lain dan tak bukan adalah korupsi, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Itulah sejumlah masalah utama yang dihadapi negeri ini sekarang.
jadi pantaskah indonesia hari ini disebut sebagai negara yang merdeka? korupsi semakin merajalela, seolah-olah para penguasa negeri ini berlomba-lomba mengais uang rakyat. Jumlah orang miskin juga seperti tak ada habis-habisnya, padahal sudah banyak sekali pembangunan dilakukan dimana-mana. apakah pemerintah sudah tidak peduli lagi dengan rakyat miskin?
Memperingati Hari Pahlawan merupakan saat yang tepat untuk mengevaluasi ulang pemahaman kita akan arti pahlawan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi seremoni tampa makna, tak membuat perubahan apa pun bagi negara. Negara seperti dibiarkan berjalan menuju bibir jurang.
Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10 November, termasuk pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
wahai pemuda, negeri ini menunggu kiprahmu untuk menjadi seorang pahlawan.

Minggu, 03 November 2013

the story of repentance of OPM founder to return to Mother Earth

the story of repentance of OPM founder to return to Mother Earth


                Some time ago Mrs. Indra Sugandi, the writer's friend and senior, lent me an interesting book written by Nicolaas Jouwe titled: Kembali ke Indonesia; Langkah, Pemikiran, dan Keinginan (Return to Indonesia: Steps, Thoughts and Desires. This book tells about a 89 -year-old man, who once was one of the founders of the Free Papua Movement (OPM) and has returned to the bosom of Mother Earth. Through the Jouwe's narratives in this book , a series of facts could be revealed that the existence of an international conspiracy behind the idea of ​​internationalizing Papua as a first step towards Papua Independence, separated from the Republic of Indonesia.

This book starts with an interesting statement made by Jouwe, as a form of guilt and repentance on measures he took at that time.

"I personally judge my escape to the Netherlands is a regrettable choice. But now, I realize that Papua is part of the Republic of Indonesia," said Jouwe.

Nicholaas Jouwe was born in Jayapura on 24 November 1923. In this book which unfortunately was published with unsystematic editing techniques, Jouwe said that he began to settle in the Netherlands in 1961 when Indonesia was under the leadership of Sukarno, struggling for the return of Papua to the bosom of Mother Earth.

However Jouwe, who was still young, took side with the Dutch colonial government, and along with some of his friends, he founded the Free Papua Movement Operations called the Free Papua Movement (OPM). Because Dutch promised Jouwe to be Papua president if in the future it could be independent.

Jouwe even the one who made the Morning Star flag that was first flown on December 1, 1961. " At that time I was a member of the New Guinea Council (Nieuw Guinea Raad) in which in the meeting organized by the Dutch colonial government, I was elected democratically in all areas of Papua."

According to Jouwe that is incidentally the key actor of the OPM formation, the December 1, 1961 event is often used as the basis of Papuan leaders to claim that the state of Papua once existed but was usurped by an international conspiracy of Indonesia , the United States and the Dutch colonial state.

Of course this is a version of the OPM in twisting facts and reality. Yet through the Jouwe's testimony after returning to Indonesia in 2009, two thirds of the member states of the UN General Assembly received the results of so-called Pepera (the determination of society's opinion) in 1969. Consequently the people of Papua  became an official part of the Homeland.

And this is also the Jouwe's reason to decide to return home to Indonesia. Because in his view, that the efforts of Papua to separate itself from the Unitary State of Republic of Indonesia (NKRI) is not in line with history.

The story of Jouwe's return to the bosom of Mother Earth has its own story which is also interesting to taken into account. On March 17, 2009, accompanied by his two children, Nancy and Nico, he decided to attend the invitation of President SBY to return home to Indonesia.

In January 2010, Jouwe settled in Jayapura. Then, how is the story of Jouwe in deciding to return to Indonesia and back to the Homeland?

In 2009 a delegation under the leadership of Ms. Fabiola Ohei arrived in Den Haag with a letter from president SBY to Jouwe. In the time, Fabiola could meet with Jouwe and was accompanied by Ondofolo (Customary Chief) Frans Albert Yoku, Nicolas Simeon Meset, the  first pilot from Papua, ITB graduate, and the Reverend Father Adolf Hanasbey.

The SBY's letter essentially invited Jouwe to return home to Indonesia. Based on the letter, Jouwe met Fanie Habibie, Indonesian Ambassador to the Netherlands at the time.



This is the Jouwe's statement when he met Fanie Habibie.

So we both met quickly once we become familiar with each other, as we both had met a long time. Then we both talked about my return. We talked a lot then Pai Tua said that Pai Tua had a lot of friends from Ambon. He was appointed by the Ambonese became respectable member of Ambon. There is a letter of appreciation he has. He said and he began to ask : " Nic , if I call you with Ambon's songs, will you with with me?

Then I say to Fanie : "Father, I has grown with two cultures, Papua and Ambon, Maluku. So just tell Father." Then he said again : "Nico, I has a rhyme from Ambon : Laju-laju perahu laju, laju sampai Surabaya. Biar lupa kain dan baju, tapi jangan lupa par beta."

I then said : " Oh good . " I also wanted to reply : Angin timur gelombang barat, kapal angkasa warna merpati, Bapa di timur Beta di barat, apa rasa dalam hati."

Tua Pai replied again with a rhyme : "Naik-naik ke Batu Gajah, Rasa Haus makan kwini, Beta rasa sengaja saja, Siapa tahu jadi begini."

Mr Fanie asked : I want to know, when will you go home quickly? I replied with another poem:  Riang-riang ke Bangkahulu, rama-rama si batang padi, diam-diam sabar dahulu, lama-lama tokh akan jadi.”

Mr Fanie said again : let's go home." And I replied : " Yes, I'll go home."

After having a dinner with Fanie Habibie, I gave one last poem to Mr. Ambassador.

“Ayam putih mari kurantai, kasih makan ampas kalapa, budi Bapa Dubes sudah sampe, Beta mau balas dengan Apa?”

Mr Fanie replied again : Yes , please go home. I replied : " Yes, I go home."

That is the Jouwe's narratives. Then shortly after that, a ​​diplomatic treaty about the Nicolas Jouwe's return to Indonesia by Mr Fanie Habibie was made.

The story of Jouwe's secret meeting with John F Kennedy

The interesting aspect of this book is the Jouwe's meeting with Kennedy in 1962, in which we know Kennedy agreed with Soekarno in order that the Dutch could immediately return Papua to Indonesia.

According to Jouwe, his meeting with Kennedy later became one of the reasons why he finally decided to return to join the Homeland.

For Jouwe the impressive thing is that when Kennedy asked if Jouwe knew about the history of Papua and knew how long Papua could be into the orbit of the Dutch colony. And naively Jouwe answered that he knew nothing. Because what Jouwe knew through history that he learned in school is about the history of the Netherlands, its geography, how many rivers and mountains in the Netherlands and so on. But in regard with the Papuan history, Jouwe admitted openly to the Kennedy he did not know.

This is where the interesting aspects of the Jouwe's story when he met President Kennedy. Kennedy told Jouwe about the Dutch colonial politics. Why Papuan history itself is not notified to the people of Papua? Because the Dutch knew that Papua is rich in gold, silver and copper.

"The Dutch did not want anyone from the outside to come to Papua . Dutch wanted to prevent the outside from getting into Papua to control it," Kennedy told Jouwe.

Even Kennedy also said that the government of Netherlands propagandized that Papua was littered fully with a wide range of dangerous diseases such as malaria and others. The Netherlands even scared that those who come to Papua would die. In short , the Netherlands carried out such propaganda in order that people do not dare to visit to Papua.

Of the story, Kennedy fully supported the integration of Papua to Indonesia. The Jouwe's meeting with Kennedy is precisely in order to persuade Jouwe to agree Papua to be part of Indonesia.

It is understandable if his meeting with Kennedy is confidential, because Jouwe was in the capacity as an advisor and member of the Kingdom of the Netherlands in Dutch and Indonesian negotiations. So the Jouwe's official position in the time was in the interests of the Dutch colonial government.

If we observe today, no doubt it is a historical irony. Kennedy, the U.S. president going hand-in-hand with Soekarno and the Indonesian government in the period 1960-1963,was intensively fighting for the return of Papua to Indonesia. While Jouwe that is in fact the son of Papua, supported the Dutch by agreing to internationalize Papua independence as a counter to the issue of the struggle of Indonesia to seize West Papua or Irian.

Kisah Pertobatan Pendiri OPM Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Nicolaas Jouwe, Kisah Pertobatan Pendiri OPM Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi 

  "Belanda pernah mengatakan kepada saya bahwa Hindia Belanda merupakan satu-satunya harapan bagi Belanda sebagai pemasok kebutuhan bahan mentah  bagi industrinya." (Nicolaas Jouwe, Pendiri Organisasi Papua Merdeka-OPM)






            Ibu Indra Sugandi, senior dan sahabat penulis, meminjami sebuah buku menarik karya Nicolaas Jouwe bertajuk: ke Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran dan Keinginan. Buku ini berkisah tentang seorang pria berusia 89 tahun, yang dulunya merupakan salah satu pendiri Organisasi Papua Merdeka(OPM). Yang telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Bukan itu saja.  Melalui penuturan Jouwe lewat buku ini, terungkap serangkaian fakta-fakta yang membuktikan adanya konspirasi internasional di balik gagasan meng-internasionalisasikan Papua sebagai langkah awal menuju Papua Merdeka, lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  
Buku ini memulai dengan satu pernyataan menarik dari Jouwe, sebagai bentuk rasa bersalah sekaligus pertobatan atas langkah yang diambilnya kala itu.

 "Saya pribadi menilai pelarian saya ke Belanda merupakan pilihan yang patut disesali. Namun kini, saya menyadari bahwa Papua merupakan bagian dari NKRI," begitu tukas Jouwe.

 Nicholaas Jouwe lahir di Jayapura pada 24 November 1923. Melalui penuturannya dalam buku ini, yang sayang sekali diterbitkan dengan teknik penyuntingan (editing) yang sangat kacau dan tidak sistematis, Jouwe mulai menetap di Belanda pada 1961. Pada saat Indonesia di bawah pemerintahan Bung Karno, sedang gencar-gencarnya memperjuangkan kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Namun Jouwe yang waktu itu masih muda belia, justru berpihak pada pemerintah kolonial Belanda, dan bersama beberapa temannya mendirikan Gerakan Operasi Papua Merdeka yang kemudian disebut Organisasi Papua Merdeka (OPM).  Karena Belanda menjanjikan Jouwe untuk menjadi Presiden Papua jika kelak sudah merdeka.
 
Bahkan Jouwe lah yang membuat bendera Bintang Kejora yang pertama kali dikibarkan pada 1 Desember 1961. “Pada saat itu saya adalah salah satu anggota Dewan New Guinea (Nieuw Guinea Raad) yang konon dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan saya terpilih secara demokratis di seluruh wilayah Papua,” begitu menurut penuturan Jouwe.

Menurut Jouwe yang notabene merupakan pelaku sejarah terbentuknya OPM, peristiwa 1 Desember 1961 itulah yang seringkali dijadikan dasar klaim pemimpin Papua sekarang bahwa negara Papua pernah ada tetapi dirampas oleh konspirasi internasional Indonesia, Amerika Serikat dan juga Negara Kolonial Belanda.

Tentu saja versi OPM ini merupakan pemutar-balikan fakta dan kenyataan. Padahal melalui kesaksian Jouwe setelah kembali ke Indonesia pada 2009, 2/3 negara anggota dalam Sidang Umum PBB menerima hasil Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969, sehingga suka atau tidak suka, bangsa Papua telah menjadi bagian resmi dari NKRI.
Dan ini pula yang jadi dasar Jouwe memutuskan kembali pulang ke Indonesia. Karena menurut pandangannya, bahwa upaya pemisahan diri Papua dari NKRI sangat bertentangan dengan sejarah.
  
Kisah kembalinya Jouwe ke pangkuan Ibu Pertiwi merupakan cerita tersendiri yang tak kalah menarik. Pada 17 Maret 2009, dengan ditemani oleh dua orang anaknya, Nancy dan Nico, memutuskan memenuhi undangan Presiden SBY, kembali ke Indonesia.

Pada Januari 2010, Jouwe resmi bermukim di Jayapura.Lantas, gimana ceritanya sampai bisa kembali ke Indonesia dan berpihak kembali ke NKRI?
Pada 2009 sebuah delegasi di bawah pimpinan Nona Fabiola Ohei tiba di Den Haag dengan membawa surat dari Presiden SBY untuk Jouwe. Fabiola ketika itu datang menemui Jouwe dengan ditemani oleh Ondofolo (Kepala Adat) Frans Albert Yoku, Nicolas Simeon Meset, pilot pertama Putra Papua lulusan ITB, dan Bapak Pendeta Adolf Hanasbey.
Surat SBY itu pada intinya mengundang Jouwe kembali pulang ke Indonesia. Berdasarkan surat SBY tersebut, Jouwe menemui Fanie Habibie, Dubes RI di Belanda ketika itu.



Inilah penuturan Jouwe ketika bertemu Fanie Habibiel.
Begitu kami berdua bertemu cepat sekali kami jadi akrab satu sama lainnnya, seperti kami berdua sudah berkenalan lama sekali. Lalu kami berdua bicara soal kepulangan saya. Kami berbicara banyak lalu Pai Tua cerita bahwa Pai Tua banyak bersahabat dengan orang Ambon. Dia diangkat oleh orang-orang Ambon menjadi warga terhormat dari kota Ambonb. Ada sehelai surat penghargaan yang dia miliki.
Dia ceritakan itu dan dia mulai menanyakan: “Nic, kalau beta panggil se dengan lagu-lagu Ambon apa se bisa iko beta?
Lalu saya katakana pada Fanie: “Bapa, beta besar dalam dua kultur, Papua dan Ambon, Maluku. Jadi Bapa bilang saja.” Lalu dia katakana lagi: “Nico, beta punya satu pantun darik Ambon: Laju-Laju perahu laju. Laju sampai ke Surabaya. Biar lupa kain dan baju, tapi jangan lupa par beta.”
Saya lalu berkata: “Wah bagus.” Saya juga mau balas: Angin Timur Gelombang Barat, kapal Angkasa warna Merpati, Bapa di Timur beta di Barat, apa rasa dalam hati.”
Pai Tua jawab lagi dengan satu pantun: “Naik-naik ke Batu Gajah, Rasa Haus makan kwini, Beta rasa sengaja saja, Siapa tahu jadi begini.”
Pak Fanie bertanya: Beta mau tahu, cepat Bapa pulang seng?” Saya jawab dengan pantun lagi: Riang-riang ke Bangkahulu, rama-rama si batang padi, diam-diam sabar dahulu, lama-lama tokh akan jadi.”
Pak Fanie katakana lagi: Pulang jo.” Dan saya sambung: “Ya, Beta Pulang.”

Setelah makan malam bersama Fanie Habibie, saya memberi satu pantun terakhir kepada Pak Duta Besar.
“Ayam putih mari kurantai, kasih makan ampas kalapa, budi Bapa Dubes sudah sampe, Beta mau balas dengan Apa?”
Pak Fanie jawab lagi: Ya, suda pulang jua.”   Saya balas: “Ya, saya pulang.”

Demikian kisah yang dituturkan Jouwe. Maka tak lama setelah itu, dibuatlah traktat diplomasi ihwal kepulangan Nicolaas Jouwe ke Indonesia oleh Dubes Fanie Habibie.

Kisah Pertemuan Rahasia Jouwe dengan John F Kennedy

Sisi menarik dari buku ini, adalah pertemuan Jouwe dengan Kennedy pada 1962, yang kita tahu Kennedy bersepakat dengan Bung Karno agar Belanda secepatnya melepas Papua kembali ke tangan Indonesia.
Menurut pengakuan Jouwe, pertemuan dengan Kennedy inilah yang kelak jadi salah satu pertimbangan mengapa akhirnya memutuskan kembali bergabung dengan NKRI.
Yang mengesankan Jouwe adalah, Kennedy bertanya apakah Jouwe tahu tentang sejarah Papua dan sudah berapa lama Jouwe tahu Papua masuk dalam orbit koloni Belanda. Dan dengan lugunya Jouwe menjawab, tidak tahu. Karena yang Jouwe tahu melalui sejarah yang dia pelajari di sekolahnya, lebih banyak tentang sejarah Belanda, tentang geografinya Belanda, berapa banyak sungainya dan gunung yang ada di Belanda. Tapi sejarah Papua itu sendiri Jouwe mengaku terus terang kepada Kenned tidak tahu.
Di sinilah aspek menarik dari Kisah Jouwe ketika bertemu Presiden Kennedy. Kennedy justru yang memberitahu Jouwe bahwa itulah politik kolonial Belanda. Mengapa sejarah Papua itu sendiri tidak diberitahukan kepada masyarakat Papua? Karena Belanda tahu Papua itu sangat kaya akan emas, perak dan tembaga.
“Belanda tidak mau orang dari luar masuk ke situ. Belanda ingin menjaga agar orang dari luar tidak masuk ke Papua untuk menguasai Papua,” begitu kata Kennedy kepada Jouwe.
Bahkan Kennedy juga mengatakan bahwa Pemerintah Belanda mempropagandakan bahwa Pulau Papua penuh dengan berbagai macam penyakit berbahaya seperti malaria dan lain-lain. Belanda bahkan menakut-nakuti bahwa barangsiapa datang ke Papua pasti akan mengalami kematian. Singkat cerita, Belanda lakukan propaganda macam itu agar orang tidak  berani berkunjung ke Papua.
Dari kisah tersebut tersirat memang Kennedy sepenuhnya mendukung integrasi Papua kepada Indonesia. Dan pertemuan Jouwe dengan Kennedy ketika itu, justru dalam rangka membujuk Jouwe agar setuju Papua jadi bagian dari Indonesia.
Bisa dimengerti jika pertemuan dengan Kennedy tersebut bersifat rahasia, karena Jouwe ketika itu dalam kapasitas sebagai penasehat dan anggota Kerajaan Belanda dalam perundingan Belanda dan Indonesia. Sehingga posisi resmi Jouwe justru berada di pihak kepentingan pemerintah kolonial Belanda.
Jika kita amati saat ini, tak pelak merupakan ironi sejarah. Kennedy, Presiden Amerika justru berada satu haluan dengan Bung Karno dan pemerintah Indonesia yang dalam periode 1960-1963 justru sedang gencar-gencarnya memperjuangkan kembalinya Papua ke tangan Indonesia. Sedangkan Jouwe yang notabene putra Papua, malah mendukung Belanda, dan setuju bujukan Belanda untuk mewacanakan Papua Merdeka sebagai kontra isu terhadap perjuangan Indonesia merebut Papua atau Irian Barat.
Dalam buku tangan-tangan Amerika, karya Hendrajit dan kawan-kawan, terungkap bahwa keputusan Kennedy menekan Belanda agar melepas Papua, pada akhirnya memicu kemarahan para pengusaha tambang di Amerika yang dikuasai oleh dinasti Rockefeller, karena lepasnya Belanda dari Papua, telah mengacaukan semua rencana-rencana  bisnis jangka panjang pengusaha-pengusaha Tambang Amerika, Inggris dan Belanda yang sudah disiapkan saa itu.
Sehingga Kennedy dan Bung Karno, praktis sejak saat itu dinyatakan sebagai musuh bersama yang harus disingkirkan. Ketika Kennedy tewas terbunuh di Dallas, Texas, pada 1963, Presiden Lyndon B Johnson yang menggantikan Kennedy, menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih bermusuhan terhadap pemerintahan Bung Karno.
Penggalan kisah pertemuan dan percakapan Nicolaas Jouwe bersama Kennedy, semakin memperkuat berbagai studi sejarah sebelumnya yang menyatakan bahwa Kennedy memang sepenuhnya mendukung lepasnya Papua dari Belanda, dan mengembalikannya kepada Indonesia.
Terbukti bahwa pertemuan bersama Kennedy tersebut dilangsugkan setelah Perjanjian Belanda dan Indonesia ditandatangani oleh di New York 15 Agustus 1962 mengenai Papua Barat. Sedangkan pertemuan Jouwe dengan Kennedy berlangsung pada 16 September 1962.
Namun Jouwe sejak 1961, jadi setahun sebelum  bertemu Kennedy pada 1962, praktis sudah bermukim di Belanda. Hanya karena dijanjikan jadi presiden Papua, Jouwe malah ikut merintis terbentuknya OPM, seraya tetap menjadi Pejabat Negara Pemerintahan  Belanda, dan menjadi perutusan pemerintahan Kerajaan  Belanda ke Amerika untuk menghadiri sidang-sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa mewakili Pemerintahan Belanda.


Jouwe dan Perspektif Baru Memaknai Papua
Salah satu bentuk pertobatan Jouwe ketika kembali bergabung dengan NKRI adalah sumbangannya dalam membentuk opini baru kepada masyarakat terhadap sejarah Papua masuk dalam orbit penjajahan Belanda.
Sejarah penjajahan  Belanda bermula pada 1928 ketika Ratu Belanda memerintahkan Gubernur Jenderal Marcus dari Hindia Belanda di Batavia untuk melakukan aneksasi Papua Barat yang meliputi wilayah tersebut.
Pada 1928 ada daerah Jerman di Pasifik yang berbatasan dengan Belanda. Papua kemudian dianeksasi menjadi daerah dari Kerajaan Belanda sekaligus dimasukkan ke dalam daerah koloni Hindia Belanda. Sejak saat itu, Papua dinyatakan sebagai daerah milik Belanda. Sehingga Hindia Belanda memiliki wilayah jajahan dari Sabang sampai Merauke.
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda menolak melepaskan sebagian wilayah Hindia Belanda, dan membagi jadi dua bagian: Sebagian dari Sorong sampai dengan yang sekarang disebut Jayapura, satu bagian lagi dari Sabang sampai Maluku yang diakui Belanda sebagai Indonesia.
Menurut pandangan Jouwe yang tidak dipahami anak-anak Muda Papua sekarang, Papua sejatinya sudah masuk Indonesia secara resmi melalui New York Agreement pada 15 Agustus 1962 di mana dinyatakan bahwa Belanda harus serahkan West Papua kepada Indonesia.
Dengan demikian, niat baik Jouwe untuk bertemu masyarakat Papua dan menjelaskan sejarah ini, patut kita beri apresiasi yang setinggi-tingginya. Karena secara gamblang Jouwe mengatakan, hanya melalui cara inilah penderitaan masyarakat Papua akibat hasutan kelompok tertentu dapat segera diakhiri.
Menarik, karena pastilah yang dimaksud Jouwe kelompok tertentu adalah para elit OPM, yang notabene Jouwe adalah salah satu pendiri dan perintisnya.
Bravo Nicolaas Jouwe.


Sumber            : Nicolaas Jouwe Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran dan Keinginan
ISBN/ISSN         : 979-416-962-5
Pengarang        : Nicolaas Jouwe - Personal Name
                        Agus Edi Santoso - Personal Name
                        Max Diaz Riberu - Personal Name
                        Yohanes Ngamal - Personal Name
Subjek             : Biografi Nicolaas Jouwe
Penerbit          : PT Pustaka Sinar Harapan dan Verbum Publishing
Tahun Terbit   : 2013
Tempat Terbit : Jakarta
Deskripsi Fisik : xx, 116 hlm. : il. ; 25 cm
Abstrak           : Buku ini menyampaikan gambaran dan buah pikiran penulis yaitu Nicolaas Jouwe tentang 
                        pembangunan dan penyelesaian masalah Papua berdasarkan pengalaman pribadinya sejak
                        proses pembentukan Papua hingga menjadi Papua seperti sekarang ini. Buku ini menyajikan
                        kisah-kisah sederhana penulis.

Papua in Love

Papua in Love

*Pendekatan agama, sosial budaya dan kesetaraan



 

Papua-adalah salah satu pulau yang terletak di ujung timur Indonesia, sesuai dengan julukannya sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi, tak sedikit pesona alam dan keindahan objek wisata yang disuguhkan, dari mulai keanekaragaman suku, budaya, bahasa yang beragam serta  bentang alam dan potensi kekayaan mineraldan sumber daya alam lainyang terpendam di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri untuk di eksplorasi, diperkenalkan dan di lestarikan keberadaannya sebagai wujud rasa syukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan kepada negeri ini. Sungguh Papua adalah tanah yang dikasihi Tuhan karena disinilah pertama kali  sang surya menampakkan wajah cerahnya dan balutan embun pagi yang menyelimuti suasana pagi mempercantik pemandangan alam papua, kicauan burung yang menambah eksotika Papua juga memberi nuansa pagi tersendiri,  dan itu semua  Tuhan berikan disaat Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Sumatra masih lelap tertidur.

Namun ada satu hal yang perlu kita perhatikan dalam upaya melestarikan semua potensi tersebut, karena bukan tidak mungkin ada banyak pihak yang ingin mengambil alih semua kekayaan yg ada di Papua untuk mendapat keuntungan bahkan menguasai semua potensi dan wilayah yang ada di bumi cenderawasih ini.Kodam XVII/Cenderawasih sebagai salah satu institusi yang bergerak di bidang keamanan dan ketahanan wilayah NKRI pada umumnya, dan Papua pada khususnya.Dan untuk menjalankan tugas pokok Kodam XVII/Cenderawasih butuh pendekatan-pendekatan antara TNI dan masyarakat guna menjalin hubungan kekeluargaan yang erat. berbagai macam pendekatan telah dilaksanakan diantaranya pendekatan keagamaan, pendekatan sosial budaya dan pendekatan kesetaraan.

Pendekatan keagamaan adalah salah satu pendekatan yang paling intens dilakukan, karena melalui pendekatan inilah cara paling efektif dan mudah di terima oleh suku dan masyarakat setempat. Banyak momen yang dapat diambil dalam pendekatan keagamaan ini guna mempererat tali persaudaraan, antara lain dalam acara ibadah bersama pangdam XVII/Cenderawasih, pembangunan tempat ibadah yang dimotor olehi prajurit TNI bersama masyarakat setempat, open house yang diadakan di kediaman pangdam XVII/Cenderawasih dan banyak lagi kegiatan keagamaan yang dilaksanakan.

Adapun hal pendukung dalam terciptanya sinergi dengan masyarakat setempat adalah dengan keikutsertaan TNI dalam pelestarian budaya Papua, contohnya pengiriman delegasi pentas seni budaya yang bertaraf nasional di Bali dan dimotori oleh Kodam XVII/Cenderawasih, penyelenggaraan pemecahan rekor MURI pembuatan Noken terbanyak dalam rangka HUT TNI yang di adakan Makodam XVII/Cenderawasih dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat baik untuk pelestarian budaya Papua sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang diakui dimata internasional.
 

Hal ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa Prajurit Kodam XVII/Cenderawasih sebagai ksatria pelindung rakyat yang berada di tanah papua bersama-sama, bersatu padu menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang, sesuai dengan sesantinya yakni “Ksatria Pelindung Rakyat” Prajurit Kodam XVII/Cenderawasihsenantiasa berdiri sejajar dengan masyarakat dan suku adat yang berada di Papua guna menjaga keutuhan kekayaan budaya dan pesona papua dalam bingkai NKRI.Begitu juga dengan mereka yang memiliki kesempatan yang sama dalam mengabdikan diri sebagai penjaga keutuhan dan keamanan Papua, contohnya dalam hal penerimaan dan seleksi calon prajurit TNI-AD, bahkan ada kebijakan khusus bagi putra daerah yang mengikuti seleksi sehingga memberikan kesempatan dan peluang yang amat besar bagi saudara kita yang ada di Papua.

Satu hal yang menarik untuk kita ulas dalam pendekatan kesetaraan ini yaitu menu hidangan bagi para pejabat kodam XVII/Cenderawasih pada setiap hari rabu. Yaitu makanan lokal khas Papua seperti: umbi-umbian, papeda, kue sagu serta makanan khas yang lain yang jarang di temui di daerah lain. Hal ini mempertegas kesetaraan antara Prajurit maupun masyarakat Papua itu sejajar, status kita sama, makanan kita sama, kesempatan kita sama, tujuan dan cita-cita kita juga sama yaitu mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, menciptakan rasa aman, rasa nyaman kepada setiap elemen masyarakat dan wilayah Papua. Dengan demikian mari kita bertekad membangun sinergitas dan bersatu padu menjaga keutuhan dan keamanan Papua dalam bingkai NKRI. (Rhiee.4pr)

 
Design by Muhai Tabuni | Bloggerized by Muhay Tabuni - Pemuda Papua Blogger Themes | Muda Merdeka Papua Indonesia management